Mahasiswa Dan Internet.
Mahasiswa
Dan Internet.
Hari-hari
seorang mahasiswa “tua” tak luput dari tugas dan nestapa, melihat rangkaian
kegiatan kampus yang sudah didepan mata, ditambah dengan pencarian sumber
pustaka secara membabi buta. Tak heran jika kemudian medsos menjadi sasaran,
status Facebook, PM BBM, hingga cuitan Twiter yang bunyinya “ potel pallaaa
Barbie, potel palllaaa susan, hingga akhirnya potel pallla saya”. Hmmm....
oasome.
Menelisik
lebih jauh tentang hal tersebut hati ini
pun bertanya-tanya, apakah kita
patut untuk memusingkan hal tersebut. Pusing dimata mereka namun sebenarnya ada
banyak hal yang seharusnya mereka syukuri dibandingkan senantiasa menuliskan
tulisan negatif yang malah dapat mematahkan semangat mereka. I remmember with some
word:
“
Arah hidupmu tergantung dengan semua hal yang dirimu pikirkan, jika pikiranmu
senantiasa memikirkan hal-hal yang positif maka begitupun dengan hidupmu, namun
jika pikiranmu hanya untuk hal-hal negatif dan juga kecurigaan begitupulalah
nantinya jalan hidupmu”
{KH. Duri Ashari}
Pernahkah
terpikir dalam benak sahabat, jika kita meneriakan banyak tugas hampir
kebanyakan dari kita hanyalah ucapan semu belaka. Otak kita mungkin hanya
bekerja sekian persen karna adanya Internet. Tanpa kita sadari Internet telah
menggantikan sebagian fungsi otak dari seorang mahasiswa, sebuah pemandangan
yang lazim saat ini jika banyak mahasiswa yang betah dikampus hanya karna untuk
mendownload ebook ataupun journal dari internet, bahkan lebih dari itu.
Unik
memang, mungkin jika Bung haji Rhoma Irama berdeendang dengan “Hidup tanpa
cinta bagai taman tak berbunga”. Mungkin syair yang tepat untuk menggambarkan
perasaan mahasiswa adalah “Hidup tanpa Internet bagaikan nonton pasar malam
tapi lupa bawa dompet”.
Lalu
saya membayangkan jika tidak ada Intenet didunia ini, atau minimal sangat sulit
untuk anda acces. Tak berkutik, mati
gaya, atau gelisah, gundah dan gulana. Mungkin kata-kata itulah yang akan
muncul diberbagai social media. Lalu bagaimanakah dengan mahasiswa yang belajar
pada generasi terdahulu, bagaimanakah mereka mengerjakan tugas mereka, darimana mereka mendapatkan banyak sumber
pustaka, dan dimanakah mereka menumpahkan isi hati mereka ketika mendapat
banyak tugas?. Itulah yang masih saya bayangkan.
Komentar
Posting Komentar