MAKALAH TENTANG PRESENTASI



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
       Dunia pendidikan merupakan satu unsur penting dalam kehidupan manusia. Didalamnya terdapat kajian yang mendorong lembaga-lembaga pendidikan untuk selalu berupaya menganalisis dunia pendidikan yang bersifat dinamis dan berubah setiap waktu. Salah satu aspek yang terdapat dalam dunia pendidikan adalah pembelajaran. Pembelajaran ialah suatu metode atau cara guna mengolah kemampuan kognitif, afektif maupun ranah psikomotorik. Diperlukan kemampuan berinteraksi antara satu dengan lainnya melihat betapa pentingnya pembelajaran dalam dunia pendidikan.
       Melihat Perguruan Tinggi sebagai sektor teratas dalam mengolah daya fikir seorang pendidik maupun peserta didik, tidak diragukan lagi bahwa haruslah ada metode terbaik yang digunakan untuk menciptakan kenyamanan dalam menangkap setiap materi yang disampaikan; agar menumbuhkan persaingan sehat di dunia luar. Menurut Simonson, agar dapat memenangkan persaingan perlu memenuhi apa yang diinginkan mahasiswa.[1] Maka dari itu, Perguruan Tinggi harus mempersiapkan generasi penerus yang mampu bersaing dengan disediakannya pendidik professional yang menerapkan metode terbaik dalam proses belajar-mengajar.
       Salah satu metode yang kerap digunakan ialah metode presentasi. Suatu metode di mana pendidik mengarahkan mahasiswa untuk menyajikan hasil diskusi. Metode ini berkaitan dengan keberhasilan seseorang sebagai seorang presenter dalam kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
1
       Memberikan presentasi yang memukau ialah idaman setiap presenter. Apapun bentuk presentasinya dan berapapun jumlah audiensnya, mahasiswa akan dapat memberikan penampilan yang terbaik dengan cara menerapkan prinsip-prinsip utama untuk sebuah presentasi baik.[2]
       Meskipun metode pembelajaran di Perguruan Tinggi sudah banyak digunakan, namun, masih sedikit tingkat keberhasilan yang dicapai dengan menggunakan metode presentasi di Program Studi Bahasa Inggris. Oleh karena itu, studi ini berusaha meneliti tentang tingkat keberhasilan mahasiswa dalam pembelajaran menggunakan metode presentasi di PBI STAIN Jurai Siwo Metro.  Dalam ruang lingkup proses pembelajaran di PBI STAIN Metro, mahasiswa masih kurang mengerti secara gamblang pengertian maupun contoh konkret dari materi yang ada; seperti pembelajaran grammar yang menggunakan metode presentasi terasa kurang tepat, kehadiran dosen dalam proses belajar mengajar yang masih rendah, dan ketidak-tertarikan mahasiswa dengan metode presentasi tersebut.
       Berikut ini adalah hasil data pre-survey dari penulis yang diambil dari kegiatan pembelajaran mahasiswa STAIN pada hari kamis, 23 April 2015:
Ketidak-hadiran dosen tepat waktu pada saat dilaksanakannya presentasi. (Gambar 1)
       Gambar di atas merupakan bentuk ketidak-berhasilan mahasiswa dengan metode yang digunakan. Gambar di atas memuat tentang keluhan beberapa mahasiswa tentang perkuliahan yang kurang aktif dengan penggunaan metode presentasi.

       Berikut ini adalah hasil data pre-survey dari penulis yang diambil dari kegiatan pembelajaran mahasiswa STAIN pada hari kamis, 23 April 2015:
Ketidak-tertarikan mahasiswa terhadap metode presentasi. (Gambar 2)
       Gambar di atas menunjukan tentang ketidak-tertarikan mahasiswa PBI terhadap metode presentasi dalam proses belajar mengajar. Hal tersebut mengakibatkan suasana kelas yang tidak kondusif.

       Berdasarkan gambar dan paragraf di atas, telah menunjukkan bahwa studi ini layak dilakukan karena studi ini mengukur tingkat keberhasilan mahasiswa melalui metode presentasi yang diberikan oleh dosen PBI STAIN Metro dalam hal proses belajar mengajar.
       Studi ini dimaksudkan untuk mengkaji tentang tingkat keberhasilan mahasiswa terhadap metode presentasi yang digunakan di PBI STAIN Metro. Studi ini menganalisis tingkat keberhasilan mahasiswa dalam proses belajar mengajar menggunakan metode presentasi, menganalisis variabel yang mendorong keberhasilan mahasiswa dalam proses belajar, dan menganalisis tingkat kesesuaian antara pembelajaran dan metode yang digunakan.
       Memahami tingkat keberhasilan mahasiswa terhadap metode presentasi yang digunakan di PBI STAIN Metro, maka diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan yang tepat dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan khususnya keberhasilan mahasiswa dalam proses belajar mengajar di PBI STAIN Metro.

B.  Rumusan Masalah
       Berdasarkan studi ini, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah tingkat keberhasilan mahasiswa terhadap metode presentasi yang diberikan oleh dosen?
2. Bagaimanakah suasana pembelajaran ketika sedang dilaksanakan presentasi?


C.    Tujuan Penelitian

       Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui tingkat keberhasilan mahasiswa melalui metode presentasi.
2.    Untuk mengetahui suasana pembelajaran yang seperti apa ketika sedang dilaksanakannya presentasi.


D.  Urgensi Dan Manfaat Penelitian

1.    Urgensi Penelitian
       Konteks perguruan tinggi sebagai fokus terhadap tingkat keberhasilan  mahasiswa sangatlah penting bagi lembaga untuk mengetahui seberapa berhasil metode yang diberikan oleh dosen. Selanjutnya, hasil studi ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sebuah rujukan bagi PBI STAIN Metro dalam meningkatkan kualitas pembelajaran terhadap mahasiswa.








\

2.    Manfaat Penelitian 
       Manfaat dari studi ini adalah:
a.  Bagi mahasiswa, hasil studi ini diharapkan dapat  memberikan pemahaman bagi mahasiswa dalam mengetahui tingkat keberhasilan yang telah dicapai oleh dosen PBI STAIN Metro dalam proses pembelajaran.
b. Bagi dosen, hasil studi ini diharapkan dapat digunakan dosen dalam meningkatkan strategi atau metode terbaik yang digunakan dalam proses pembelajaran.
c.  Bagi Institusi, hasil studi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi institusi agar mampu meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa dalam proses pembelajaran.
d. Bagi Peneliti, hasil dari studi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peniliti untuk dapat memperkaya khazanah teori dalam melakukan penelitian tentang kajian tingkat keberhasilan terhadap proses pembelajaran.



























BAB II
KERANGKA TEORI


A.  Kajian Riset Sebelumnya

       Studi ini berjudul Analisis Tingkat Keberhasilan Mahasiswa Terhadap Proses Pembelajaran Melalui Metode Presentasi di PBI STAIN Metro yang belum pernah diteliti sebelumnya. Peneliti telah menemukan penelitian sebelumnya yang dijadikan sebagai sebuah rujukan terhadap studi ini yang berjudul Analisis Tingkat Kepuasan Mahasiswa Terhadap Proses Pembelajaran di Perguruan Tinggi X yang diteliti oleh Dwi Febriyanto dari STAIN Jurai Siwo Metro.[3]
       Berdasarkan  studi ini, peneliti menggunakan data sebagai tinjauan pustaka. Dalam penelitian sebelumnya, peneliti menganalisis tingkat kepuasan mahasiswa terhadap proses pembelajaran di perguruan tinggi tersebut. Dalam penelitian sebelumny,a peneliti menggunakan teknik Importance Performance Analysis (IPA). Teknik analisis ini digunakan untuk memetakan hubungan antara harapan mahasiswa terhadap kinerja pelayanan yang diberikan oleh perguruan tinggi yang diteliti.
       Penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa proses pembelajaran yang diberikan oleh sebuah perguruan tinggi di setiap prodinya masih kurang optimal. Dari data tersebut, banyak mahasiswa yang mengeluh karena kurang konsistennya dosen dalam hal kehadiran dan pembagian jadwal kuliah, serta penyampaian materi yang diberikan oleh dosen belum sesuai dengan kondisi nyata.
       Hasil dari penelitian sebelumnya adalah tingkat kepuasaan mahasiswa secara umum masih rendah dengan nilai rata-rata yang belum sesuai dengan harapan mahasiswa dan pelayanan yang diberikan oleh perguruan tinggi yang diteliti dalam proses belajar mengajar.

B.  Pengertian Belajar
       Berdasarkan KBBI, definisi belajar adalah perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Dengan demikian, belajar merupakan sebuah tindakan seseorang dalam usaha untuk merubah tingkah laku ke arah yang lebih baik.
       Menurut kimble (1961:6), belajar adalah perubahan yang relatif permanen di dalam behavioral potentionality (potensi behavioral) sebagai akibat dari reinforced practice (praktik yang diperkuat). Senada dengan hal tersebut, Mayer (1982:1040) menyebutkan bahwa belajar adalah menyangkut adanya perubahan perilaku yang relatif permanen pada pengetahuan atau perilaku yang relatif permanen pada pengetahuan atau perilaku seseorang karena pengalaman.
       Daripada itu, Bell-Gredler menjelaskan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitude) yang diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan. Kemudian, Gagne mengungkapkan bahwa belajar merupakan sebuah sistem yang di dalamnya terdapat berbagai unsur yang saling terkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku.[4]
       Menurut Jean Piaget, seorang psikolog Swiss mengemukakan bahwa dalam belajar ada dua proses  perkembangan yang terjadi dalam pertumbuhan kognitif anak, yaitu: (1) proses asimilasi dalam proses ini, anak dapat mengubah  pengetahuan yang telah ia miliki dengan mengadaptasi wawasan yang baru. (2) proses akomodasi dalam proses ini, anak dapat mengubah dan mengembangkan wawasan yang telah dimiliki dengan menyesuaikan wawasan baru yang lebih baik. [5]
       Berdasarkan pandangan di atas, dapat dikatakan bahwa anak sudah memiliki kemampuan dalam mengolah dan menyusun informasi baru yang ia dapatkan dan menyesuaikannya dengan wawasan yang telah dimiliki untuk memperoleh perkembangan kognitif yang lebih baik.
       Menurut pandangan Carl R. Rogers (ahli psiko-terapi) menyatakan bahwa proses belajar yang berpusat pada murid memberikan keleluasaan dalam menentukan kegiatan yang dinginkan yang dapat dipertanggung jawabkan.[6] Dalam perspektif di atas, Rogers menekankan pada pembelajaran yang bertujuan untuk membimbing siswa ke arah kebebasan dan kemerdekaan. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat dipahami bahwa setiap siswa memiliki kebebasan dalam memilih pembelajaran yang diinginkan sesuai dengan konsekuensi yang bisa dipertanggung-jawabkan. Dengan demikian, siswa dapat belajar untuk bertanggung jawab sesuai apa yang dilakukan.
       Jerome S. Bruner, seorang ahli psikologi perkembangan dan psikologi kognitif menjelaskan bahwa belajar adalah memilih, menjaga dan mentransformasikan pengetahuan yang diperoleh secara optimal.[7] Pernyataan ini mengemukakan bahwa belajar merupakan kemampuan dalam mengelola informasi yang diperoleh dengan menyeleksi pengetahuan yang ada, menyimpan pengetahuan yang telah diperoleh, serta mampu mentransformasikan ke dalam bentuk konseptual agar dapat dipahami secara luas.
       Bruner menambahkan terdapat 3 fase dalam proses belajar, yaitu:
a.    Informasi
       Proses belajar, tentunya kita akan memperoleh informasi; informasi tersebut bisa memperkuat, menambahkan atau berlawanan dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
b.    Transformasi
       Informasi yang telah diperoleh, harus dipahami, dikaji dan diaplikasikan ke dalam bentuk yang lebih abstrak, sehingga diperoleh informasi yang lebih jelas.

c.    Evaluasi
       Merupakan fase terakhir dalam proses belajar. Dalam fase ini, pengetahuan yang telah terbentuk hendaknya diukur kembali untuk dapat dimanfatkan dalam memahami aspek-aspek yang lain.[8]
       Menurut ketiga fase di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan rangkaian kegiatan yang saling berintegrasi satu sama lain yang dapat menghasilkan sebuah hasil belajar yang optimal. Berdasarkan beberapa definisi para ahli yang telah diuraikan di atas, dapat diketahui bahwa dalam pandangan Skinner, belajar merupakan pemberian stimulus terhadap siswa, sehingga tanpa adanya stimulus yang diberikan siswa tidak akan memperoleh suatu pengetahuan dan informasi apapun.
       Berbeda dengan pandangan Piaget, bahwa belajar berorientasi pada perkembangan kognitif anak, sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat dikembangkan sesuai dengan kemampuan kognitif anak. Akan tetapi, dalam perspektif Rogers dan Bruner, belajar memiliki definisi yang berbeda dari kedua ahli sebelumnya. Dalam pandangan ini, dikemukakan bahwa belajar dapat mendorong siswa untuk berperan aktif dalam memahami pengetahuan yang ada untuk dapat diaplikasikan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
       Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku atau perilaku pada diri seseorang yang mengacu pada perkembangan diri agar menjadi lebih baik


C.    JENIS-JENIS BELAJAR
  • Belajar arti kata-kata
Mengerti kata-kata merupakan dasar terpenting. Orang yang membaca akan mengalami kesukaran untuk memahami isi bacaan jika tidak mengerti arti kata-kata. Karena ide-ide yang ada dalam suatu kata atau kalimat hanya dapat dipahami dengan mengerti arti setiap kata. Belajar arti kata-kata maksudnya adalah orang mulai menangkap arti yang terkandung dalam kata-kata yang digunakan. Pada mulanya suatu kata sudah dikenal, tetapi belum tahu artinya. Misalnya, pada anak kecil, dia sudah mengetahui kata “kucing” atau “anjing”, tetapi dia belum mengetahui bendanya, yaitu binatang yang disebutkan dengan kata itu. Namun lam kelamaan dia mengetahui juga apa arti kata “kucing” atau “anjing”,. Dia sudah tahu bahwa kedua binatang itu berkaki empat dan dapat berlari. Suatu ketika melihat seekor anjing dan anak tadi menyebutnya “kucing”. Koreksi dilakukan bahwa itu bukan kucing, tetapi anjing. Anak itu pun tahu bahwa anjing bertubuh besar dengan telinga yang cukup panjang, dan kucing itu bertubuh kecil dengan telinga yang kecil dari pada anjing.
Setiap pelajar atau mahasiswa pasti belajar arti kata-kata tertentu yang belum diketahui. Tanpa hal ini, maka sukar menggunakannya. Kalau pun dapat menggunakannya, tidak urung ditemukan kesalahan penggunaan. Mengerti arti kata-kata merupakan dasar-dasar terpenting. Orang yang membaca akan mengalami kesukaran untuk memahami isi bacaan. Karena ide-ide yang terpatri dalam setiap kata. Dengan kata-kata itulah, para penulis atau pengarang melukiskan ide-idenya kepada siding pembaca. Oleh karena itu, penguasaan arti kata-kata adalah penting dalam belajar.

  • Belajar Kognitif
Dalam belajar, seseorang tidak bisa melepaskan diri dari kegiatan belajar kognitif. Belajar kognitif bersentuhan dengan masalah mental. Kegiatan mental berproses ketika memberikan tanggapan terhadap obyek-obyek yang diamati. Obyek-obyek yang diamati dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan, atau lambang yang merupakan sesuatu bersifat mental. Misalnya, seseorang menceritakan hasil perjalanannya berupa “pengalaman” kepada temannya. Ketika dia bercerita, dia tidak dapat menghadirkan obyek-obyek yang pernah dilihatnya kepada temannya itu, dia hanya dapat menggambarkan semua obyek itu dalam bentuk kata-kata.
Tak dapat disangkal bahwa belajar kognitif bersentuhan dengan masalah mental. Objek-objek yang diamati dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan, atau lambang yang merupakan sesuatu bersifat mental. Misalnya, seseorang menceritakan hasil perjalanannya berupa pengalamannya kepada temuannya. Ketika dia menceritakan pengalamannya selama dalam perjalanan, dia tidak tidak dapat menghadirrkan objek-objek yang pernah dilihatnya selama dalam perjalanan itu di hadapan temannya itu, dia hanya dapat menggambarkan semua objek itu dalam bentuk kata-kata atau kalimat. Gagasan atau tanggapan tentang objek-objek yang dilihat itu dituangkan dalam kata-kata atau kalimat yang disampaikan kepada orang yang mendengarkan ceritanya. Bila tanggapan berupa objek-objek materiil dan tidak materiil telah dimiliki, maka seseorang telah mempunyai alam pikiran kognitif. Itu berarti semakin banyak pikiran dan gagasan yang dimiliki seseorang, semakin kaya dan luaslah alam pikiran kognitif orang itu. Belajar kognitif penting dalam belajar. Dalam belajar, seseorang tidak bisa melepaskan diri dari kegiatan belajar kognitif. Mana bisa kegiatan mental tidak berproses ketika memberikan tanggapan terhadap ojek-objek yang diamati. Sedangkan belajar itu sendiri adalah proses mental yang bergerak kea rah perubahan.

  • Belajar menghafal
Menghafal adalah suatu aktivitas menanamkan suatu materi verbal di dalam ingatan, sehingga nantinya dapat diproduksikan (diingat) kembali secara harfiah, sesuai dengan materi yang asli. Dalam menghafal, ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan yaitu mengenai tujuan, pengertian, perhatian dan ingatan. Efektif tidaknya dalam menghafal dipengaruhi oleh syarat-syarat tersebut. Menghafal tanpa tujuan menjadi tidak terarah, menghafal tanpa pengertian menjadi kabur, menghafal tanpa perhatian adalah kacau, dan menghafal tanpa ingatan adalah sia-sia.
  • Belajar Konsep
Konsep atau pengertian adalah satuan arti yang mewakili sejumlah obyek yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap obyek-obyek yang dihadapi, sehingga obyek ditempatkan dalam golongan tertentu. Misalnya pada bunga mawar, kenanga, angrek, dan melati ditemukan sejumlah ciri yang terdapat pada semua bunga-bunga konkret itu, yaitu “mekar, bertangkai, berwarna, sedap dipandang mata, berputik, dan berbenang sari”. Sejumlah ciri itu ditangkap dalam pengertian “bunga” yang kemudian dilambangkan dengan kata “bunga”. Jadi, konsep bunga itu dalam pengertian mekar, bertangkai, berwarna, sedap dipandang mata, berputik, dan berbenang sari.Belajar konsep merupakan salah satu cara belajar dengan pemahaman. Ciri khas dari konsep yang diperoleh sebagai hasil belajar pengertian ini adalah adanya skema konseptual. Skema konseptual adalah suatu keseluruhan kognitif, yang mencakup semua ciri khas yang terkandung dalam suatu pengertian. Konsep atau pengertian adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama, orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap objek-objek yang dihadapinya, sehingga objek ditempatkan dalam golongan tertentu. Objek-objek dihadirkan dalam kesadaran orang dalam bentuk repressentasi mental tak berperaga. Konsep sendiri pun dapat dilambangkan dalam bentuk suatu kata {lambang bahasa}.
Konsep dibedakan atas konsep konkret dan konsep yang harus didefinisikan. Konsep konkret adalah pengertian yang menunjuk pada objek-objek dalam lingkungan fisik. Konsep ini mewakili benda tertentu, seperti meja, kursi, tumbuhan, rumah, mobil, sepeda motor dan sebagainya. Konsep yang didefinisikan adalah konsep yang mewakili realitas hidup, tetapi tidak langsung menunjuk pada realitas dalam lingkungan hidup fisik, karena realitas itu tidak berbadan. Hanya dirasakan adanya melalui proses mental. Misalnya, saudara sepupu, saudara kandung, paman, bibi, belajar, perkawinan, dan sebagainya, adalah kata-kata yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa, bahkan dengan mikroskop sekalipun. Untuk memberikan pengertian pada semua kata itu diperlukan konsep yang didefinisikan dengan menggunakan lambang bahasa.
Ahmad adalah saudara sepupu Mahmud; merupakan kenyataan {realitas}, tetapi tidak dapat diketahui dengan mengamati Ahmad dan Mahmud. Kenyataan itu dapat diketahui dengan menggunakan lambang bahasa. Kata “saudara sepupu” dijelaskan. Penjelasan atas kata “saudara sepupu” itulah yang dimaksudkan disini dengan konsep yang didefinisikan. Berdasarkan konsep yang didefinisikan, didapatkan pengertian, sauadara sepupu adalah anak dari paman atau bibi.
Akhirnya, belajar konsep adalah berfikir dalam konsep dan belajar pengertian. Taraf ini adalah taraf konprehensif. Taraf kedua dalam taraf berfikir. Taraf pertamanya adalah taraf pengetahuan, yaitu belajar reseptif atau menerima.

  • Belajar Kaidah
Kaidah adalah suatu pegangan yang tidak dapat diubah-ubah. Kaidah merupakan suatu representasi (gambaran) mental dari kenyataan hidup dan sangat berguna dalam mengatur kehidupan sehari-hari. Orang yang mempelajari kaidah mampu menghubungkan beberapa konsep. Misalnya, seseorang berkata, “besi dipanaskan memuai”, hal ini karena ia telah menguasai konsep dasar mengenai “besi”, “dipanaskan” dan “memuai”, dan dapat menentukan adanya suatu relasi yang tetap antara ketiga konsep dasar itu, maka dia dengan yakin mengatakan bahwa “besi dipanaskan memuai”.
Selama belajar di sekolah atau diperguruan tinggi seseorang akan menemukan kaidah-kaidah, misalnya : setiap makhluk yang bernyawa pasti mat, belajar adalah berubah, udara yang lembab mengakibatkan besi berkarat, air yang dimasukkan dalam ruang bersuhu nol derajad akan membeku, perkembangan anak dipengaruhi oleh keturunan dan lingkungan.
Belajar kaidah {rule} termasuk dari jenis belajar kemahiran intelektual {intellectual skill}, yang dikemukakan oleh Gagne. Belajar kaidah adalah bila dua konsep atau lebih dihubungkan satu sama lain, terbentuk suatu ketentuan yang mereprensikan suatu keteraturan. Orang yang telah mempelajari suatu kaidah, mampu menghubungkan beberapa konsep. Misalnya, seseorang berkata, “besi dipanaskan memuai”, karena seseorang telah menguasai konsep dasar mengenai “besi”, “dipanaskan” dan “memuai”, dan dapat menentukan adanya suatu relasi yang tetap antara ketiga konsep dasar itu {besi, dipanaskan, dan memuai}, maka dia dengan yakin mengatakan bahwa “besi dipanaskan memuai”.
Kaidah adalah suatu pegangan yang tidak dapat diubah-ubah. Kaidah merupakan suatu representasi {gambaran} mental dari kenyataan hidup dan sangat berguna dalam mengatur kehidupan sehari-hari. Hal ini berarti bahwa kaidah merupakan suatu keteraturan yang berlaku sepanjang masa. Oleh karena itu, belajar kaidah sangat penting bagi seseorang sebagai salah salah satu upaya penguasaan ilmu selama belajar di sekolah atau di perguruan tinggi {universitas}.semoga uraian di atas dapat menjadi penghubung dalam memahami belajar kaidah-kaidah di dalam menuntut ilmu..

  • Belajar berpikir
Berpikir adalah kemampuan jiwa untuk meletakkan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan. Dalam belajar ini, orang dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan. Masalah harus dipecahkan melalui operasi mental, khususnya menggunakan konsep dan kaidah serta metode-metode bekerja tertentu.  Belajar berpikir sangat diperlukan selama belajar di sekolah atau di perguruan tinggi.
Macam taraf berfikir yaitu : taraf berpikir pengetahuan (belajar reseptif/menerima), komprehensif Berpikir dalam konsep belajar pengertian), aplikasi (berpikir menerapkan), analisis dan sistesis (berpikir menguraikan dan menggabungkan), evaluasi (berpikir kreatif atau memecahkan masalah). Dalam belajar ini, orang dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan, tetapi tanpa melalui pengamatan dan reorganisasi dalam pengamatan.masalah harus dipecahkan melalui operasi mental, khususnya menggunakan konsep dan kaidah serta metode-metode bekerja tertentu.
Dalam konteks ini ada istilah berpikir konvergen dan berpikir divergen. Berpikir konvergen adalah berpikir menuju satu arah yang benar atau satu jawaban yang paling tepat atau satu pemecahan dari suatu masalah.berpikir divergen adalah berpikir dalam arah yang berbeda-beda, akan diperoleh jawaban-jawaban unit yang berbeda-beda tetapi benar.
Konsep Dewey tentang berpikir menjadi dasar untuk pemecahan masalah adalah sebagai berikut.
a. Adanya kesulitan yang dirasakan dan kesadaran akan adanya masalah.
b. Masalah itu diperjelas dan dibatasi.
c. Mencari informasi atau data dan kemudian data itu diorganisasikan.
d. Mencari hubungan-hubungan untuk merumuskan hipotesis-hipotesis, kemudian hipotesis-hipotesis itu dinilai, diuji, agar dapat ditentukan untuk diterima atau ditolak.
e. Penerapan pemecahan terhadap masalah yang dihadapi sekaligus berlaku sabagai pengujian kebenaran pemecahan tersebut untuk dapat sampai pada kesimpulan.
Menurut Dewey, langkah-langkah dalam pemecahan masalah adalah sebagai berikut.
a. Kesadaran akan adanya masalah.
b. Merumuskan masalah.
c. Mencari data dan merumuskan hipotesis-hipotesis.
d. Menguji hipotesis-hipotesis itu.
e. Menerima hipotesis yang benar.
Meskipun diperlukan langkah-langkah, menurut Dewey, tetapi pemecahan masalah itu tidak selalu mengikuti urutan yang teratur, melainkan meloncat-loncat antara macam-macam langkah tersebut. Lebih-lebih apabila orang berusaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks.

  • Belajar Keterampilan motorik (motor skill)
Orang yang memiliki suatu keterampilan motorik, mampu melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan secara terpadu.
  • Belajar Estetis
Bentuk belajar ini bertujuan membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan dalam berbagai bidang kesenian. Belajar ini mencakup fakta, seperti ritme, tema dan komposisi, relasi-relasi, seperti hubungan antara bentuk dan isi, struktur-struktur, sistematika warna dan aliran-aliran dalam seni lukis dan karya seni lain.


D.  Belajar Bagi Orang Dewasa

       Seorang ahli psikologi berkebangsaan swiss, C. Jung membagi individu secara psikologis menjadi dua yaitu ekstrovert dan introvert. Seseorang yang bersifat ekstrovert cenderung menyenangi cara belajar dengan melakukan interaksi dengan lingkungannya, bicara dengan orang lain atau mencari pengalaman. Adapun seorang introvert lebih menyenangi belajar dengan cara berpikir sendiri tanpa ada gangguan dari lingkungannya (Craton, 1996). Pada dasarnya, setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk menjadi salah satu dari kedua sifat tersebut, meskipun tidak ada yang mutlak. Dalam arti, seorang introvert bukan sama sekali tidak mempunyai ciri-ciri ekstrovert atau sebaliknya.
       Berkaitan dengan hal tersebut di atas, mahasiswa sebagai orang yang sudah dianggap dewasa akan lebih baik jika diperlakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan karakteristik mereka; khususnya karakteristik psikologisnya. Hal itu terjadi karena karakteristik psikologis akan mempengaruhi seseorang dalam bekerja sama dengan orang lain (dalam suatu kelompok), seperti cara memecahkan masalah, membuat keputusan, membuat rencana belajar, dan juga cara belajar secara umum. Kesemuanya itu akan mempengaruhi seseorang pada gaya belajarnya (learning style). Yang dimaksud gaya belajar adalah kecenderungan seseorang untuk menggunakan cara tertentu dalam belajar sehingga akan dapat belajar dengan baik.
       Berkaitan dengan gaya belajar, ada beberapa teori yang salah satu diantaranya adalah teori yang dikemukakan oleh D. A. Kolb. Dia menyatakan ada empat tahapan dalam belajar, yaitu sebagai berikut.
1.    Pengalaman kongkret, yaitu terlibat secara langsung dalam suatu pengalaman baru.
2.    Observasi reflektif, yaitu melakukan observasi terhadap orang lain dalam melakukan eksperimen, atau mengembangkan observasi terhadap pengalaman yang pernah dialami
3.    Konseptualisasi abstrak, yaitu menciptakan suatu konsep atau teori untuk menjelaskan observasi.
4.    Eksperimen aktif, yaitu menggunakan teori-teori untuk memecahkan suatu masalah dan membuat keputusan.
       Keempat tahapan belajar tersebut membentuk lingkaran yang disebut siklus belajar (learning cycle). Namun demikian, bukan berarti bahwa seseorang dalam belajar harus melalui keempat tahapan tersebut, tetapi lebih menyerupai pintu yang dapat dimasuki oleh seseorang ketika belajar.[9]

Menurut Lunandi (dalam Asmin, 2005), menyatakan proses pendidikan orang dewasa bertujuan untuk mengembangkan kemampuan, memperkaya pengetahuan, meningkatkan kualifikasi teknis, dan jiwa profesionalisme para pesertanya. Proses pendidikan orang dewasa harus mengakibatkan perubahan sikap dan perilaku yang bersifat (dapat dikategorikan) sebagai perkembangan pribadi, dan peningkatan partisipasi sosial dari individu yang bersangkutan. Setiana (2005) menyatakan bahwa tujuan dari pendidikan orang dewasa pada hakekatnya adalah terjadinya proses perubahan perilaku menuju ke arah yang lebih baik dan menguntungkan hanya dapat terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang cukup mendasar dalam bentuk atau peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sekaligus sikap.

Topatimasang (dalam Asmin, 2005) berpendapat bahwa tujuan  pendidikan didasarkan pada anggapan bahwa tujuan utama pendidikan adalah menghasilkan keseluruhan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Asumsi ini menyiratkan dua hal, yakni:
  1. Jumlah pengetahuan cukup sedikit untuk dikelola secara menyeluruh oleh sistem pendidikan dan
  2. Kecepatan perubahan yang terjadi dalam tata budaya atau masyarakat cukup lambat sehingga memungkinkan untuk menyimpan pengetahuan dalam kemasan tertentu serta menyampaikannya sebelum pengetahuan itu sendiri berubah.
















E.  Andragogi

       Andragogi adalah salah satu pendekatan dalam pendidikan yang dipopulerkan oleh Malcolm Knowlws pada thaun 1986 (Cranton, 1992). Knowles menyatakan bahwa andragogi adalah the art and science of helping adult learn, yaitu seni dan ilmu yang berkaitan dengan cara-cara membantu orang dewasa belajar. Hal itu berbeda dengan pedagogi, yaitu sebagai the art and science of teaching childern atau seni dan ilmu yang berkaitan dengan cara mengajar.
       Pendekatan andragogi mempunyai beberapa asumsi dasar, diantaranya yang cukup dikenal ada empat hal, yaitu (1) self-directedness atau kemampuan mengarahkan diri, (2) pengalaman pembelajar atau mahasiswa, (3) kesiapan belajar berdasarkan kebutuhan, dan (4) orientasi bahwa belajar itu adalah kehidupan. Orang dewasa sebagai peserta didik sangat unik dan berbeda dengan anak usia dini dan anak remaja. Proses pembelajaran orang dewasa akan berlangsung jika dia terlibat langsung, idenya dihargai dan materi ajar sangat dibutuhkannya atau berkaitan dengan profesinya serta sesuatu yang baru bagi dirinya. Permasalahan perilaku yang sering timbul dalam program pendidikan orang dewasa yaitu mendapat hal baru, timbul ketidaksesuaian (bosan), teori yang muluk (sulit dipraktikkan), resep/petunjuk baru (mandiri), tidak spesifik dan sulit menerima perubahan (Yusnadi, 2004).

Malcolm Knowles (1986), menyebutkan ada 4 (empat) prinsip pembelajaran orang dewasa, yakni:
  1. Orang dewasa perlu terlibat dalam merancang dan membuat tujuan pembelajaran. Mereka mesti memahami sejauh mana pencapaian hasilnya.
  2. Pengalaman adalah asas aktivitas pembelajaran. Menjadi tanggung jawab peserta didik menerima pengalaman sebagai suatu yang bermakna.
  3. Orang dewasa lebih berminat mempelajari perkara-perkara yang berkaitan secara langsung dengan kerja dan kehidupan mereka.
  4. Pembelajaran lebih tertumpu pada masalah (problem-centered) dan membutuhkan dorongan dan motivasi.
Sedangkan Miller (1904), menyebutkan prinsip pembelajaran bagi orang dewasa, adalah sebagai berikut:
  1. Peserta didik perlu diberikan motivasi bagi mengubah tingkah laku. Peserta didik perlu sedar tingkah laku yang tidak diingini dan mempunyai gambaran jelas berkenaan dengan tingkah laku yang diingini.
  2. Peserta didik mempunyai peluang mencoba tingkah laku yang baru.
  3. Peserta didik membutuhkan bahan-bahan pembelajaran yang dapat membantu kebutuhannya.
Karakteristik Peseta Didik (Orang Dewasa)

Proses belajar bagi orang dewasa memerlukan kehadiran orang lain yang mampu berperan sebagai pembimbing belajar bukan cenderung digurui, orang dewasa cenderung ingin belajar bukan berguru. Orang dewasa tumbuh sebagai pribadi dan memiliki kematangan konsep diri, mengalami perubahan psikologis dan ketergantungan yang terjadi pada masa kanak-kanak menjadi kemandirian untuk mengarahkan diri sendiri, sehingga proses pembelajaran orang dewasa harus memperhatikan karakteristik orang dewasa.

       Karakteristik orang dewasa menurut Knowles (1986) berbeda asumsinya dibandingkan dengan anak-anak. Asumsi yang dimaksud adalah:
  1. Konsep dirinya bergerak dari seorang pribadi yang bergantung ke arah pribadi yang mandiri
  2. Manusia mengakumulasi banyak pengalaman yang diperolehnya sehingga menjadi sumber belajar yang berkembang
  3. Kesiapan belajar manusia secara meningkat diorientasikan pada tugas perkembangan peranan sosial yang dibawanya.
  4. Perspektif waktunya berubah dari suatu pengetahuan yang tertunda penerapannya menjadi penerapan yang segera, orientasi belajarnya dari yang terpusat pada pelajaran beralih menjadi terpusat pada masalah.
     Terdapat beberapa pengandaian pembelajaran orang dewasa yang diberikan oleh Knowles (1986), yakni:
  1. Orang dewasa perlu tahu mengapa mereka perlu belajar. Orang dewasa ingin dan berkecenderungan bertindak sesuai dengan keinginan sendiri apabila mereka semakin matang, walaupun ada saatnya mereka bergantung pada orang lain.
  2. Orang dewasa perlu belajar melalui pengalaman. Pengalaman orang dewasa adalah sumber pembelajaran yang penting. Pembelajaran mereka lebih berkesan melalui teknik-teknik berasaskan pengalaman seperti perbincangan dan penyelesaian masalah.
  3. Orang dewasa belajar berdasarkan pemusatan masalah. Orang dewasa sadar akan kebutuhan pembelajaran secara khusus melalui masalah-masalah kehidupan yang sebenarnya. Oleh karena itu, program-program pendidikan orang dewasa sepatutnya dirancang sesuai kebutuhan hidupnya dan disusun dengan melibatkan mereka.
  4. Orang dewasa belajar dengan lebih berkesan apabila topik itu bernilai. Orang dewasa belajar bersungguh-sungguh bagi menguasai suatu pengetahuan ataupun keterampilan bagi kebutuhan hidup. Oleh karena itu, pembelajaran orang dewasa berpusat pada target pencapaian. Kesungguhan orang dewasa menguasai suatu keterampilan ataupun pengetahuan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Model Andragogi dibentuk berdasarkan andaian-andaian di atas.
  5. Kebutuhan untuk memenuhi rasa ingin tahu. Orang dewasa perlu tahu mengapa mereka perlu belajar, Tough (1979) mendapati apabila orang dewasa berkemampuan untuk belajar dan memperoleh manfaat daripada pembelajarannya dan menyadari keburukan apabila tidak mempelajarinya. Peranan fasilitator di sini adalah untuk menyadarkan peserta didik tentang kebutuhan untuk memenuhi rasa ingin tahu, “need to know”.
  6. Kebutuhan untuk menyempurnakan dirinya. Orang dewasa mempunyai kemampuan dalam menilai diri sendiri, menentukan keputusan dan menentukan arah hidup mereka sendiri, orang dewasa juga mampu membangunkan kondisi psikologi mereka untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan dari orang lain.
  7. Peranan pengalaman. Orang dewasa memiliki pengalaman yang berbeda-beda, sesuai dengan latar belakang, cara pembelajaran, kebutuhan, pencapaian dan minat. Kaidah pembelajaran yang sering digunakan adalah perbincangan kumpulan, penyelesaian masalah dan bertukar pengalaman.
  8. Kesediaan belajar. Orang dewasa bersedia untuk belajar pada perkara yang perlu diketahui dan dipelajari oleh mereka dan mengaitkan apa yang dipelajari dengan realitas kehidupan. Kesediaan belajar ini penting bagi diri sendiri.
  9. Orientasi pembelajaran. Orang dewasa belajar berdasarkan orientasi kehidupan, berbeda dengan anak-anak yang tertumpu pada pelajaran atau berpusatkan subjek. Setiap perkara yang dipelajari adalah berkaitan dengan hidup mereka.
  10. Peranan motivasi. Orang dewasa mendapat motivasi dari dorongan luar (seperti kenaikan pangkat, gaji tinggi), tetapi faktor pendorong dari dalam lebih berpengaruh (seperti kualitas kehidupan, penghargaan).
     Sedangkan beberapa perilaku yang dapat menghambat proses belajar orang dewasa antara lain sebagai  berikut:
  1. Harapan seseorang untuk mendapatkan hal-hal baru, namun yang didapatkan ternyata tidak sesuai dengan harapan sehingga yang bersangkutan menjadi tidak respons atau tidak tertarik lagi terhadap apa yang diberikan dalam proses  belajar yang sedang berlangsung.
  2. Teori yang muluk-muluk sehingga meragukan kemungkinan penerapannya dalam  praktik.
  3. Harapan mendapatkan petunjuk baru, namun harus mencari pemecahan. 
  4. Pesan bersifat umum, tidak spesifik, sehingga tidak dapat menyelesaikan  permasalahan yang dihadapai peserta.
  5. Sulit menerima perubahan (Setiana, 2005).
      Berdasarkan ringkasan prinsip-prinsip yang diberikan oleh beberapa tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa prinsip pembelajaran orang dewasa adalah:
  1. Pembelajaran orang dewasa sangat berbeda dengan pembelajaran anak-anak. Kaidah pembelajaran yang sering digunakan dalam pembelajaran orang dewasa adalah perbincangan kumpulan, penyelesaian masalah dan bertukar pengalaman.
  2. Orang dewasa belajar dengan lebih baik apabila mereka terlibat secara aktif dalam proses merancang, menilai dan melaksanakan proses pembelajaran yang mereka ikuti.
  3. Orang dewasa belajar dengan lebih berkesan apabila topik itu bernilai, serta mampu membantu permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan dan pekerjaan mereka sehari-hari.
  4. Orang dewasa belajar dengan baik apabila mereka mempunyai motivasi untuk berubah, self-discovered atau mempunyai keterampilan dan strategi spesifik
  5. Salah satu kendala dalam pembelajaran orang dewasa adalah bahwasanyya orag dewasa pada umumnya telah memiliki pengetahuan dan sikap sehingga sulit menerima perubahan.



F.   Pengertian Pembelajaran

       Menurut Corey, pembelajaran merupakan suatu tahapan di mana seseorang akan menghasilkan respons dan tingkah laku terhadap situasi tertentu berdasarkan lingkungan yang telah dibentuk.[10] Sehingga dalam pandangan ini, dapat dikatakan bahwa pembelajaran merupakan pengkondisian lingkungan yang bertujuan untuk menciptakan perilaku yang diharapkan.
       Dimyati dan Mudjiono menyatakan bahwa pembelajaran adalah kegiatan pendidik secara terencana dengan menggunakan pola instruksional, dalam mendorong siswa agar belajar secara aktif, yang menitik-beratkan pada pelayanan berupa sumber belajar.[11] Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pencapaian hasil belajar siswa bergantung pada program kegiatan yang telah dirancang oleh pendidik dalam proses belajar mengajar.
       Berdasarkan UUSPN No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pembelajaran merupakan proses komunikasi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar terhadap suatu lingkungan belajar mengajar.[12] Dengan demikian, pembelajaran dapat dikatakan sebagai proses belajar yang dirancang oleh guru untuk membangun kreativitas dalam berpikir; yang bertujuan untuk mendorong kemampuan berpikir siswa dan dapat meningkatkan kompetensi siswa dalam membentuk pengetahuan yang baru sebagai usaha untuk meningkatkan penguasaan yang tepat terhadap bahan pelajaran.
       Menurut konteks ini, peran guru bukan semata-mata memberikan informasi, melainkan juga  memberi pengarahan dan fasilitas belajar (directing and facilitating the learning) agar proses belajar dapat berjalan secara optimal dan efektif. Berdasarkan pernyataan tersebut, pembelajaran mengandung arti bahwa setiap kegiatan yang dirancang untuk menunjang seseorang dalam mempelajari, memahami dan menguasai suatu kemampuan dan hal yang baru.
G.    PENILAIAN TENTANG PEMBELAJARAN
Penilaian merupakan sebuah upaya formal utnuk menentukan status siswa dalam kaitannya dengan variabel-variabel pendidikan yang menjadi fokus penelitian (Popham, 2008). Bagian pembahasan ini mencakup cara-cara menilai produk-produk atau hasil-hasil pembelajaran. Metode-metode ini meliputi observasi langsung, respons-respons tertulis, respons-respons lisan, penilaian oleh pihak lain, dan laporan-laporan diri.
1.      Observasi Langsung
Observasi langsung merupakan contoh-contoh perilaku siswa yang kita amati untuk menilai apakah pembelajaran telah terjadi. Para guru sering menggunakan observasi langsung. Observasi langsung merupakan indeks-indeks pembelajaran yang valid jika jujur dan terbuka dan jika tidak banyak penyimpulan dari pengamatnya. Metode ini akan memberikan hasil terbaik jika perilaku-perilakunya dapat dikenali karakteristiknya dan kemudian para siswa partisipannya dapat diamati untuk memastikan apakah perilaku-perilaku mereka sesuai dengan standar.
Masalah yang dijumpai pada observasi langsung adalah metode ini hanya fokus pada hal-hal yang dapat diamati, sehingga proses-proses kognitif dan afektif yang mendasari tindakan menjadi terlewatkan. Permasalahan kedua dalam penggunaan metode ini adalah, meskipun secara langsung mengamati perilaku yang mengindikasikan bahwa pembelajaran telah berlangsung, tidak ditemukannya perilaku yang tepat saat pengamatan bukan berarti bahwa pembelajaran telah terjadi.
2.      Respons Tertulis
       Beberapa kemudahan dalam penggunaan dan kapasitas untuk mencakup berbagai macam materi membuat metode respons tertulis menjadi indicator yang lebih disukai dalam penelitian pembelajaran. Kita berpikir bahwa respons-respons tertulis mencerminkan pembelajaran, tetapi banyak faktor yang dapat memengaruhi kinerja perilaku bahkan ketika siswa telah belajar. Untuk menggunakan respons tertulis, kita harus berpandangan bahwa siswa akan berusaha semaksimal kemampuan mereka dan bahwa tidak ada faktor-faktor di luar fokus penelitian yang terlibat yang membuat hasil kerja tertulis mereka tidak mewakili hal-hal yang telah mereka pelajari.
3.      Respons Lisan
Respons lisan adalah bagian integral dari kultur sekolah. Guru membutuhkan siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menilai pembelajaran berdasarkan apa yang mereka katakan. Seperti halnya respons tertulis, kita berasumsi bahwa respons lisan merupakan cerminan yang valid dari hal-hal yang diketahui siswa, yang bisa jadi tidak selalu benar.
4.      Penilaian oleh Pihak Lain
Cara lain untuk menilai pembelajaran adalah meminta orang-orang lain menilai siswa berkenaan dengan kuantitas dan kualitas belajar mereka. Keuntungan menggunakan penilitian oleh pihak lain adalah pengamat dapat menjadi lebih objektif dalam menilai para siswa dibanding jika siswa yang membuat penilaian tentang diri mereka sendiri. Metode ini juga dapat dipakai menilai proses-proses pembelajaran yang mendasari tindakan dan dengan demikian data-data yang tidak dapat diperoleh melalui pengamatan langsung bisa didapatkan.
5.      Laporan diri
Laporan diri adalah penilaian-penilaian dan pernyataan-pernyataan tentang diri sendiri. Laporan-diri dapat berupa: kuisoner, wawancara, stimulasi terhadap ingatan, think aloud, dan dialog. Kuisioner berisi item-item atau pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada para responden untuk mengetahui pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan mereka. Responden dapat mencatat jenis-jenis aktivitas yang biasa mereka lakukan, menilai tingkat kompetensi mereka menurut pandangan mereka sendiri, dan menilai seberapa seringa tau berapa lama mereka telah menjalani aktivitas mereka itu. Wawancara adalah tipe kuisioner di mana seseorang pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau poin-poin untuk dibahas dan responden menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara lisan. Biasanya wawancara dilakukan per individu meskipun cara ini dapat juga diterapkan untuk kelompok. Dalam prosedur stimulasi ingatan, responden diberi sebuah tugas lalu mengingat kembali hal-hal yang mereka pikirkan pada titik-titik waktu tertentu selama mereka mengerjakan tugas tersebut. Di sini pewawancara akan menanyai mereka tentang hal itu. Think-aloud adalah prosedur di mana siswa menyatakan atau melisankan pikiran-pikiran, tindakan-tindakan, dan perasaan-perasaan mereka sementara mereka sedang mengerjakan tugas. Verbalisasi dapat direkam oleh pengamat dan setelahnya dinilai untuk menentukan tingkat pemahaman respoden. Metode think-aloud mensyaratkan responden untuk memberikan ekspresi verbal. Tipe laporan-diri lainnya adalah dialog; yaitu percakapan antara dua orang atau lebih sementara mereka sedang menjalankan sebuah tugas pembelajaran. Seperti think aloud, dialog dapat direkam dan pernyataan-pernyataan yang terekam, yang mengindikasikan pembelajaran dan faktor-faktor yang tampaknya memengaruhi pembelajaran dalam setting di mana pembelajaran tersebut dijalankan, dapat dianalisis.

H.  Pembelajaran Yang Efektif

      Pada dasarnya, efektifitas pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik ditinjau dari pendidik maupun dari peserta didik. Pembelajaran yang efektif juga dipengaruhi oleh perencanaan guru. Menurut Burden dan Byrd, perencanaan pembelajaran berkaitan dengan tindakan yang diambil oleh pendidik dalam mengelola, menerapkan, dan mengevaluasi hasil pembelajaran.[13] Perencanaan pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting dalam belajar mengajar, karena perencanaan pembelajaran akan menentukan hasil belajar pada siswa. Hal tersebut dapat kita pahami bahwa perencanaan yang baik akan membawa hasil yang baik.
Rosanshine menganalisis 6 hal tentang guru yang efektif sebagai  berikut.[14] (1) melakukan review harian, (2) melakukan praktik terbimbing, (3) menyiapkan materi baru, (4) menyediakan balikan dan koreksi, (5) melaksanakan praktik mandiri, (6) melakukan review mingguan dan bulanan. Dengan analisis yang dikemukakan oleh Rosanshine di atas, pendidik akan mudah dalam mengelola pembelajaran di kelas.
Pembelajaran yang efektif juga terdapat pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pembelajar. Pada saat ini, telah ada perubahan perspektif terhadap pembelajaran yaitu pembelajaran bukan lagi berpusat pada pendidik, akan tetapi berpusat pada peserta didik. Dalam hal ini telah diuraikan 3 pendekatan dalam pembelajaran yang efektif yakni (1) independent learning (belajar mandiri), (2) problem-based learning (belajar berdasarkan masalah), dan (3) integrated learning (pembelajaran terpadu).[15]
Berdasarkan beberapa perspektif di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang efektif didasarkan pada perencanaan yang tepat, baik dari guru ataupun  dari siswa.

 

5 PRINSIP PEMBELAJARAN EFEKTIF


        Menyelenggarakan pembelajaran efektif merupakan impian setiap guru dan sekolah. Pembelajaran efektif adalah kegiatan pembelajaran yang berhasil mengantarkan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Secara managerial-administratif dan berlaku secara kedinnasan, ukuran keberhasilan tersebut adalah pencapaian kriteria ketuntasan minimal oleh setidaknyaa 85% siswa.
Mewujudkan pembelajaran efektif bukan hal mudah bagi kebanyakan guru, bahkan yang pernah mengajar berpuluh tahun sekalipun.
Di antara sekian faktor penentu efektivitas pembelajaran, kemampuan pengajar merupakan faktor paling dominan. Pada sebagian orang pembelajaran efektif dipengaruhi oleh ketrampilan bawaan dalam mengajar.
1.  Pengendalian Kelas
Pembelajaran efektif pertama-tama membutuhkan kemampuan pengajar untuk mengendalikan kelas, yaitu mengkondisikan siswa agar dengan antusias bersedia mendengarkan, memperhatikan dan mengikuti instruksi pengajar. Pengendalian kelas merupakan kunci pertama keberhasilan pembelajaran. Kegagalan ataupun pengendalian kelas yang kurang maksimal akan berakibat kegagalan atau minimal keberhasilan pembelajaran kurang optimal. Intinya, pengendalian kelas merupakan upaya membuat siswa secara mental siap untuk dibelajarkan. 



2.  Membangkitkan minat eksplorasi.
         Setelah siswa secara mental siap belajar, tugas guru adalah meyakinkan siswa-siswinya betapa materi pembelajaran yang tengah mereka pelajari penting dan mudah dipelajari, sehingga menggugah minat mereka untuk mempelajarinya. Ibarat makan, setelah anak mandi, berganti pakaian dan duduk di meja makan, sajian yang akan mereka santap memang membangkitkan selera. Anak tahu makanan itu enak, bermanfaat dan tak sabar untuk segera melahapnya.
3.  Penguasaan konsep dan prosedur mempelajarinya
       Seenak apapun makanan, pasti ada cara paling tepat untuk menikmatinya. Kesalahan cara menikmati tak jarang membuat anak kehilangan selera, misalnya makan satu ayam tetapi dari sambalnya lebih dulu. Itu sebabnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah memperkenalkan hakekat makanan yang akan mereka santap, serta dari bagian mana atau dengan cara seperti apa menikmatinya. 
    Tugas inti seorang guru secara profesional adalah memperkenalkan konsep dasar dari materi pelajaran yang tengah dipelajari, dimulai dari sisi termudah dan paling menarik. Guru yang benar-benar menguasai materi pelajaran pasti menemukan banyak cara untuk membuat anak didiknya memahami materi pelajaran, dan bila perlu membuat kiasan, terutama untuk materi pelajaran yang bersifat abstrak,  
4.  Latihan
       Pemahaman dalam sekali proses akan sangat mudah menguap oleh berbagai aktivitas lain siswa. Memberikan latihan demi latihan baik berupa latihan di kelas, PR atau pemberian tugas-tugas tertentu merupakan wahana untuk memperkuat penguasaan materi yang telah dipelajari. Pemberian tugas dan latihan mutlak diberikan agar siswa berlatih secara terstruktur, sekalipun secara mandiri mereka mungkin saja mempelajarinya. Hal yang harus diperhatikan dalam pemberian latihan meliputi ketercakupan materi pelajaran. Itu sebabnya kisi-kisi materi pelajaran harus disusun sejelas mungkin, sehingga dalam pemberian latihan dan penugasa benar-benar meluas dan mendalam.  
5.  Kendali Keberhasilan
       Tugas guru tidak cukup hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi lebih dari itu guru harus memastikan seluruh siswa menguasainya. Penjajagan terhadap penguasaan materi pelajaran oleh siswa harus dilakukan baik selama proses pembelajaran, latihan maupun penugasan. Selama kegiatan pembelajaran guru perlu mulai menjajagi penguasaan materi pelajaran semisal melalui kuis, snap shot, atau pertanyaan acak lainnya. Hal yang harus diperhatikan saat memberikan kuis atau pertanyaan penjajagan adalah jawaban siswa yang selama ini dikenal paling lemah daya tangkapnya. Meminta siswa yang dikenal paling lemah dan sedang daya tangkapnya menjadi indikator awal keberhasilan pembelajaran, sebab secara otomatis dapat diperkirakan penguasaan materi oleh siswa yang daya tangkapnya kuat.  


I.     Pengertian Presentasi

Presentasi merupakan metode pembelajaran dengan cara penyampaian melalui penjelasan informasi oleh penyampai pesan (dosen, guru, instruktur atau mahasiswa yang ditugaskan untuk memaparkan sesuatu baik ide, gagasan, ataupun penemuan). Presentasi merupakan proses komunikasi yang terdiri atas penyampaian pesan (presenter). Pesan ini sendiri yakni berbagai informasi yang ingin disampaikan dan (audiens) atau penerima pesan yakni orang yang menerima penjelasan.
Sebagaimana halnya dalam sebuah proses komunikasi, adakalanya pesan yang disampaikan sulit ditangkap atau dipahami karena munculnya berbagai hambatan (noise), baik gangguan yang datang dari penyampaian pesan (presenter) seperti guru, dosen atau instruktur, atau gangguan yang muncul dari audience (siswa, mahasiswa, dan peserta didik ) itu sendiri sebagai penerima pesan.
Dalam proses pembelajaran, baik di lembaga pendidikan formal atau di lembaga pendidikan non formal termasuk pelatihan-pelatihan, media presentasi merupakan media yang sering dimanfaatkan. Hal ini disebabkan karena proses pembelajaran atau pelatihan tidak terlepas dari proses penyajian materi. Oleh karenanya, guru, dosen atau instruktur  perlu memahami secara praktis pemanfaatan media ini.[16]


J.      MEMPERSIAPKAN PRESENTASI
Keberhasilan dalam presentasi sangat dipengaruhi oleh materi presentasi Anda. Karena presentasi yang efektif, menarik dan hebat selalu dilandasi oleh materi yang kuat dan mantap. Untuk itu sebagai presenter Anda harus dapat membuat materi presentasi yang baik dan relevan sesuai kebutuhan audiens.Namun masalahnya membuat materi presentasi yang baik dalam presentasi bukan hal yang mudah. Selain materi harus memiliki struktur yang baik, Anda juga harus mampu memilih dan memutuskan ide-ide utama serta mengembangkan ide utama menjadi materi yang kuat dan mantap untuk Anda presentasikan.
Karena alasan itulah dalam tulisan ini saya akan sharing kepada Anda tentang teknik-teknik yang tepat, yang bisa Anda gunakan untuk membuat materi presentasi yang baik. Berikut adalah teknik atau langkah-langkah yang bisa Anda lakukan.
1. Menggali Ide Utama
Ada tiga teknik yang bisa Anda pertimbangkan untuk menggeli ide utama. Teknik-teknik tersebut antara lain adalah teknik brainstorming, mind mapping dan logical structure.
Brainstorming
Brainstorming adalah teknik menggali ide dengan cara menuliskan ide-ide yang ada di dalam pikiran secara spontan dalam sebuah media, bisa kertas flipchart besar, post it maupun papan tulis, tanpa ada proses penilaian.
Brainstorming bisa dilakukan dengan dua cara yaitu brainstorming individual dan brainstorming kelompok.
Brainstorming Individual
      Brainstorming individual dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Umumnya ini dilakukan untuk menghasilkan ide original yang keluar dari pikiran kita, tanpa pengaruh ide orang lain. Dengan brainstorming individual kita tidak perlu khawatir pada penilaian orang lain dan kita bisa lebih leluasa dalam menggali ide. Jika kita memiliki wawasan yang luas, brainstorming individual memungkinkan kita menggali banyak ide tanpa khawatir akan kualitas ide yang kita temukan. Namun brainstorming individual bisa sangat lemah apabila kita tidak memiliki wawasan yang cukup.
Brainstorming Kelompok
      Brainstorming kelompok dilakukan oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama atau berkelompok. Ketika anggota kelompok bisa mematuhi aturan dalam brainstorming dengan baik, maka brainstorming kelompok bisa menjadi sangat efektif untuk menggali ide. Karena melibatkan banyak orang sehingga informasi yang di dapat akan lebih banyak. Keuntungan lain dari brainstorming kelompok adalah membantu setiap orang yang terlibat merasa telah memberi kontribusi, dan itu mengingatkan kita bahwa orang lain memiliki ide kreatif yang bisa ditawarkan.
       Brainstorming kelompok juga sangat menyenangkan. Bisa menjadi salah satu sarana untuk membangun tim. Namun perlu dipahami brainstorming kelompok juga dapat mengakibatkan kerugian individu. Misalnya gagasan yang seharusnya bagus tidak digunakan. Bahkan ketika anggota kelompok tidak bisa mematuhi aturan brainstorming, kegiatan ini akan sulit menghasilkan ide yang berkualitas. Dari dua jenis brainstorming kita bebas untuk memilih. Kita bisa menggunakan motode brainstorming individual atau brainstorming kelompok. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya dalam melakukan brainstorming kita bisa menggunakan kertas flipchart besar, post it atau papan tulis. Namun dalam kesempatan ini saya akan menunjukkan kepada Anda bagaimana melakukan brainstorming dengan kertas post it.
      Cara melakukannya sederhana. Sediakan post it dan alat tulis. Kemudian cari tempat yang nyaman supaya dapat berkonsentrasi penuh. Jika sudah siap silakan pikirkan topik yang hendak kita bahas, gali semua ide dengan cepat dan tuliskan apa saja yang terlintas. Satu ide untuk satu post it. Ingat, tidak proses penilaian. Setelah semua ide sudah kita tulis, langkah selanjutnya silakan tempel post it pada dinding ruangan Anda. Atau jika Anda punya papan tulis bisa menggunakan papan tulis. Setelah semua semua tertempel selanjutnya pilih ide, rapikan dan kelompokkan gagasan-gagasan yang sejenis, satu tema dan berhubungan erat satu sama lain.

Mind Map atau Peta Pikiran
Mind map atau peta pikiran adalah alat otak yang sangat luar biasa. Tony Buzan menjelaskan mind mapping adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi ke luar otak. Mind map adalah cara mencatat kreatif, efektif dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran kita. Membuat mind mapping untuk menyiapkan bahan presentasi tidak sulit. Kita hanya perlu menyiapkan kertas kosong dan beberapa alat tulis warna. Setelah kertas dan alat tulis sudah siap kita bisa mulai membuatnya. 
Pertama yang harus kita lakukan adalah menuliskan ide utama, atau topik presentasi ditengah kertas. Selanjutnya buat anak cabang dari ide utama menjadi tiga bagian yaitu pembuka, isi dan penutup. Setelah itu dari anak cabang pertama (pembuka) silahkan buat kembali anak cabang yang meliputi ide-ide utama yang akan kita tampilkan di bagian pembuka. Lakukan cara ini untuk anak cabang isi dan penutup.
Menggunakan mind map selain baik untuk memetakan ide-ide utama presentasi, juga dapat membantu kita mengingat urutan dan alur presentasi dengan baik. Ini dikarenakan mind map hanya berisi kata kunci, setiap ide ditata dan dihubungkan dengan jelas dan terakhir karena mind map menggunakan warna yang merangsang imajinasi.
Logical Structure
      Rhenald Kasali dalam bukunya Sukses Melakukan Presentasi menjelaskan salah satu cara mengembangkan topik adalah dengan mengembangkan logical structure. Logical structure pada dasarnya adalah sebuah alat bantu untuk menguraikan benang-benang kusut ke dalam sebuah diagram yang kita sebuah logical tree. Bentuknya semacam outline. Dengan demikian ia adalah sebuah rencana (bukan a final product), sehingga sifatnya sangat terbuka untuk penyesuaian-penyesuaian atau perubahan-perubahan. Alat ini bermanfaat untuk mengarahkan jalan berpikir audiens sehingga dari awal mereka sudah tahu ke mana arah presentasi.
       Selain itu struktur ini juga berguna bagi presenter yang bekerja dalam tim, atau bagi mereka yang belum terbiasa mengembangkan. Dengan memiliki suatu logical tree, para anggota tim tinggal memilih sub topik yang menjadi tanggung jawabnya, dan ke mana arah presentasi tersebut. Struktur ini akan mendorong presenter membuat suatu poin, lalu mencari penjelasannya (dukungan-dukungannya) sampai tuntas. Intinya terdiri dari heading, sub heading dan supporting detail.Itulah tiga teknik untuk mengembangkan topik menjadi materi presentasi yang baik. Anda tinggal memilih cara mana yang menurut Anda paling nyaman dan mudah Anda lakukan.
2. Mengevaluasi Ide
       Setelah Anda berhasil menggali ide utama langkah selanjutnya silakan Anda evaluasi ide-ide Anda. Pilih mana saja dari ide-ide tersebut yang akan Anda gunakan dan mana yang tidak Anda gunakan. Anda harus jeli dan berpikir keras di sini untuk bisa mendapatkan ide-ide utama terbaik yang akan Anda gunakan.
3. Menstrukturkan Ide
      Setelah evaluasi selesai Anda lakukan. Anda sudah menemukan ide-ide utama yang akan Anda gunakan. Selanjutnya silakan strukturkan ide-ide Anda, urutkan ide-ide tersebut supaya runtut.
4. Mengembangkan Ide
      Setelah semua ide utama terkumpul, Anda sudah menstrukturkan ide-ide tersebut, langkah selanjutnya adalah melengkapi ide-ide utama tersebut menjadi materi presentasi yang utuh. Anda perlu melengkapi ide-ide utama dengan penjelasan yang akurat. Anda perlu menambahkan informasi pendukung yang relevan, kutipan, data atau fakta untuk memperkuat ide-ide utama Anda Kaitannya dengan hal ini ada dua tahap yang perlu Anda lakukan. Pertama, menambahkan penjelasan untuk tiap ide-ide utama yang murni dari pikiran Anda. Ini bertujuan untuk mendapatkan gagasan-gagasan asli dan untuk mengukur pengetahuan Anda terhadap topik yang Anda bawakan.
       Kedua, menambahkan informasi, kutipan, data atau fakta dari sumber-sumber terpercaya. Setelah tahap pertama selesai, selanjutnya silakan baca buku, internat, majalah, jurnal atau yang lain untuk mencari informasi, kutipan, data atau fakta untuk memperkuat gagasan yang sudah Anda tuliskan pada tahap sebelumnya. Catatan: supaya materi yang Anda siapkan efektif pastikan bahwa penjelasan yang Anda masukkan tidak terlampau banyak (sesuaikan dengan waktu). Mengapa harus tepat waktu? karena materi yang berkualitas harus bisa menjelaskan gagasan secara lengkap tanpa menjadi kepanjangan atau terlalu singkat. Artinya materi Anda harus cukup disampaikan dengan batas waktu yang Anda miliki.
       Misalnya Anda melakukan presentasi dengan durasi waktu 60 menit, maka Anda harus berbicara minimal 55 menit dan maksimal 65 menit. Jangan terlalu kurang atau berlebihan. Jika terlalu kurang audiens akan menganggap Anda tidak cukup bahan untuk disampaikan. Jika terlalu berlebihan Anda mencuri waktu berharga audiens. Ini akan memunculkan keresahan dalam diri audiens. Audiens tidak akan fokus dengan apa yang Anda sampaikan, dan Anda akan kehilangan kesempatan untuk menutup presentasi yang berkesan. Kemudian jangan masukkan informasi yang tidak Anda pahami. Jangan masukkan informasi, kutipan data atau fakta yang tidak relevan. Selain itu pastikan informasi, data atau fakta itu akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.
       Demikianlah empat teknik sederhana bagaimana mempersiapkan materi presentasi. Jadi sekali lagi saya inginkan, jika Anda ingin membuat materi presentasi mulailah dengan menggali ide, kemudian mengevaluasi ide, menstrukturkan ide, baru kemudian mengembangkan ide menjadi materi yang kuat dan mantap. Jika Anda merasa ulasan ini menarik dan bermanfaat, silakan Anda bagikan ulasan ini ke teman-teman Anda. Atau misalnya Anda punya tanggapan mengenai ulasan ini silakan bagi melalui kolom komentar di bawah.

K.    Teknik Presentasi
                                   
      Teknik Presentasi adalah salah satu elemen dalam Desain Komunikasi Visual khususnya di bidang multimedia. Pada awalnya ketika jurusan Desain Komunikasi Visual ini masih baru, Teknik Presentasi ditafsirkan dengan beberapa macam penafsiran. Misalnya pada penerapan di bidang Desain Produk, teknik Presentasi mungkin ditafsirkan cara menampilkan barang-barang produk yang ingin dipresentasikan (dipamerkan) ke hadapan audience. Presentasi untuk bidang karya ilmiah, misalnya disampaikan dengan cara mendemonstrasikan hasil karya tersebut  Sehingga dipahami oleh audience. Akan tetapi, akhirnya berhasil disepakati bahwa bahasan tentang teknik (penyajian) presentasi dan media interaktif adalah cara seseorang menyajikan penjelasan terhadap data, uraian proses, maupun pembelajaran, baik disajikan di muka audience dengan bantuan alat peraga berupa  Slide show, program aplikasi yang menyajikan informasi interaktif yang dapat diakses secara personal, maupun presentasi dalam bentuk cetakan yang dibagikan kepada semua penerima informasi.
Buat suasana yang santai dan rileks untuk pendengarmu, misalnya dengan guyonan yang relevan, atau ambil perhatian mereka dengan bahasa tubuh atau peristiwa yang dramatik. Gunakan kata ganti "personal" (misalnya kita) dalam memberikan presentasi. Lakukan kontak mata dengan pendengar. Presentasikan topik dengan menggunakan suara yang ramah/akrab dan terdengan jelas bukan berarti keras, tapi beri variasi sebagai penekanan pada beberapa kata. Gunakan kata/kalimat transisi yang memberitahukan pendengar bahwa kamu akan menuju ke pemikiran yang lain.
Berilah pertanyaan-pertanyaan kepada pendengar untuk melibatkan mereka. Ambil kesimpulan sesuai dengan pemikiran/argumentasi yang sudah dipresentasikan. Dapat ditambahkan pada beberapa presentasi bisnis di akhiri juga dengan pembagian hadiah dengan berbagai metode, seperti pemberian pertanyaan, undian kartu nama, busana khusus yang digunakan audian dan sebagainya. Sisakan waktu untuk pertanyaan, dan mintalah masukkan pada: isi presentasi (ide-ide berhubungan yang mungkin belum disentuh) kesimpulan dan cara presentasi.

L.  Pertimbangan Pelaksanaan Presentasi

       Dalam proses pembelajaran, tidak selamanya guru, dosen atau instruktur harus melakukan presentasi. Terdapat sejumlah pertimbangan yang harus diperhatikan kapan sebaiknya presentasi dilakukan. Berikut ini pertimbangan-pertimbangan itu dijelaskan secara singkat.
1.    Manakala materi pelajaran tidak bersifat baru, sehingga banyak tersedia di berbagai sumber belajar, sebaiknya presentasi dihindari.
2.    Apabila yang ingin disampaikan ialah materi pelajaran yang bersifat konsep, prinsip yang memerlukan pembuktian, atau berupa prosedur dan cara kerja dari sesuatu, lebih baik presentasi dihindari.
3.    Presentasi dapat dilakukan manakala akan menyampaikan bahan-bahan baru, serta kaitannya dengan yang akan dan harus dipelajari siswa (overview).
4.    Presentasi dilakukan manakala menginginkan agar audiens atau siswa memiliki gaya model intelektual tertentu, misalnya agar siswa dapat mengingat bahan pelajaran sehingga ia akan dapat mengungkapkanya kembali manakala diperlukan.
5.    Jika lingkungan tidak mendukung untuk menggunakan strategi yang  berpusat pada siswa, misalnya tidak adanya sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
6.    Presentasi dilakukan manakala jumlah audiens relatif banyak, sehingga tidak mungkin digunakan metode lain.
7.    Presentasi dilakukan manakala waktu yang tersedia terbatas, sedangkan materi pelajaran cukup luas.
Di bawah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai presentasi itu sendiri.
1.    Jenis-jenis Media Presentasi
       Ada beberapa jenis media presentasi yang sering digunakan. Di bawah ini disajikan jenis-jenis media presentasi serta pemanfaatannya dalam komunikasi pembelajaran.[17]
a.    Papan Tulis
       Papan tulis merupakan alat bantu yang dapat digunakan sebagai media untuk memperjelas pesan yang hendak disampaikan agar dapat lebih dimengerti oleh penerima pesan. Dalam pendidikan formal, papan tulis merupakan alat bantu yang sejak dulu sampai sekarang banyak digunakan oleh guru dan dosen.
b.    Overhead projector ( OHP)
       Sesuai dengan namanya, overhead projector (OHP) dapat diartikan sebagai alat yang dapat memproyeksikan gambar melalui atau di atas kepala kelayar atau ke tempat proyeksi yang bersifat discope (memproyeksikan secara tidak langsung).
c.    Komputer
       Dewasa ini komputer merupakan alat bantu yang banyak digunakan dalam proses pembelajaran. Mempresentasikan sesuatu seperti ide atau gagasan baru dengan menggunakan komputer, dapat lebih menarik dibandingkan alat bantu yang lain.

2.    Merancang  Bahan Presentasi
       Merancang bahan presentasi merupakan langkah penting yang harus dilakukan sebelum melakukan proses presentasi. Ada empat langkah yang harus dilakukan dalam merancang bahan presentasi, yaitu:
a.    Merumuskan tujuan khusus (specifying objectives).
b.    Mendesain visual (designing visual).
c.    Memilih bentuk tulisan (selecting lettering).
d.   Melakukan evaluasi dan revisi (evaluation and revision).


3. Pelaksanaan Presentasi
       Ada tiga langkah sebelum melaksanakan presentasi, yakni persiapan, pelaksanaan dan penutup.[18]
a.    Persiapan
       Langkah persiapan adalah langkah sebelum pelaksanaan presentasi. Keberhasilan dalam melaksanakan presentasi akan ditentukan oleh langkah persiapan. Oleh karena itu, langkah persiapan ini perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh.
b.    Penyajian/Pelaksanaan
       Beberapa petunjuk praktis agar penyajian atau presentasi menarik dan berhasil dengan baik diantaranya adalah:
a)    Pastikan semua yang hadir (audiens) mengetahui tujuan yang hendak dicapai.
b)   Usahakan ruangan tetap terang sekalipun menggunakan alat presentasi yang diproyeksikan seperti LCD atau OHP.
c)    Ketika presentasi berlangsung, jaga kontak pandang dengan audiens, agar dapat mengontrol perilaku audiens.
d)   Apabila presentasi menggunakan OHP sebagai alat presentasi, mengontrol dan mengarahkan perhatian audiens terhadap materi atau pesan yang dipresentasikan, maka sebaiknya OHP tidak terus menerus dihidupkan.
e)    Setiap selesai menyajikan satu pokok permasalahan, pastikan audiens memahaminya dengan benar.
f)    Selipkan humor-humor yang ringan sesuai dengan latar belakang audiens, jangan paksakan menyelipkan humor yang tidak sesuai dengan latar belakang audiens.
4. Penyajian
       Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Yang harus dipikirkan oleh setiap guru dalam penyajian ini adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan mudah ditanggap dan dipahami oleh siswa. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini. Diantaranya adalah penggunaan bahasa, intonasi suara, menjaga kontak mata dengan siswa, menggunakan humor atau candaan agar kelas tetap hidup dan segar melalui penggunaan kalimat atau bahasa yang lucu.[19]

5.    Standar dan Kriteria Penilaian Presentasi Makalah

a.    Apa presentasi makalah itu?
       Presentasi makalah (term-paper) adalah menyajikan satu karangan ilmiah dengan sistematis kepada dosen atau mahasiswa lainnya tentang suatu pokok bahasan tertentu sebagai bagian dari tugas mata kuliah yang dimaksudkan, untuk mendukung pencapaian hasil belajar atau kompetensi.
b.    Apa arti pentingnya presentasi makalah?
       Sebuah presentasi makalah (term-paper) bertujuan untuk menunjukkan kemampuan sebuah performa hasil belajar atau kompetensi yang kompleks. Sebab, tugas ini menuntut kemampuan menyajikan pikiran pada level analisis, atau sintesis atau evaluasi.[20]
6.    Teknik Presentasi Dengan Menggunakan Audio-visual
       Dengan audio-visual, seorang pembicara dapat memberikan keterangan yang lebih luas, rinci, serta mudah dicerna oleh para pendengarnya. Presentasi juga menjadi lebih menarik dan hidup. Pendengar juga dapat ikut menulis apabila ada yang dapat dipakai sebagai referensi. Presentasi audio-visual terdiri atas beberapa unsur pokok, unsur-unsur pokok tersebut harus diperhatikan, baik sebelum maupun saat presentasi berlangsung. Unsur-unsur pokok tersebut adalah:
a.    Materi presentasi.
b.    Tempat presentasi.
c.    Alat-alat audio, video atau audio-visual.
d.   Letak audio-visual di dalam ruangan.
e.    Alat peraga (slides, kaset video dan sebagainya).
f.     Tata cara peragaan dan presentasi.[21]




BAB III
METODE PENELITIAN


A.   Jenis dan Sifat Penelitian

       Studi ini pada dasarnya adalah sebuah studi kualitatif. Studi kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian yang berusaha mengungkap fenomena secara holistik dengan cara mendeskripsikannya melalui bahasa non-numerik dalam konteks dan paradigma alamiah. Mengasumsikan bahwa kenyataan-kenyataannya empiris terjadi dalam satu konteks sosio-kultural yang saling terkait satu sama lain secara holistik. Paradigma alamiah ini pada gilirannya melahirkan karakteristik metodologis yang khas, yang harus di perhatikan seperti design, instrument, proses pengumpulan, cara memperlakukan, menganalisis dan cara menyajikan data dalam bentuk kata-kata dan bahasa. [22]    


B.  Sumber Data

       Studi ini menggunakan observasi langsung yang memungkinkan bagi peneliti untuk mengumpulkan data mengenai perilaku dan kejadian secara detail. Peneliti dalam observasi langsung tidak berusaha untuk memanipulasi kejadian yang diamati yang dibagi ke dalam dua bagian yaitu data primer dan data sekunder. Data primer dalam studi ini adalah data yang berasal dari peneliti, data ini berupa angket yang diperoleh dari mahasiswa PBI STAIN Metro. Data sekunder adalah menggunakan dokumentasi sebagai arsip dan sebagai sumber data terdahulu; dalam hal ini, data yang digunakan adalah dengan menggunakan data yang telah ada sebelumnya dan data tersebut diperoleh dari gambar kegiatan mahasiswa ketika presentasi berlangsung. Banyak tipe data yang dikumpulkan melalui teknik observasi langsung ini. Hasilnya lebih akurat dan memerlukan biaya yang relatif lebih ekonomis dibandingkan dengan teknik wawancara atau pertanyaan yang digunakan dalam metode survei. Data yang diperoleh melalui observasi langsung kadang digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh melalui wawancara atau kuesioner.
       Menganalisis masalah, penulis akan memanfaatkan data tertulis dalam studi ini, sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini yang diperoleh dari tingkat keberhasilan mahasiswa terhadap proses pembelajaran melalui metode presentasi di PBI STAIN Metro sebagai objek dari penelitian ini.


C.  Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data

       Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data pada studi ini dibagi menjadi dua cara yaitu: (1) dokumentasi dan (2) kuesioner (angket). Dokumentasi mengacu kepada dokumen pengumpulan data pribadi (seperti jurnal-jurnal dan buku-buku yang berhubungan dengan studi ini). Selain itu, Peneliti mengumpulkan data dari persepsi mahasiswa tentang tingkat keberhasilan mahasiswa terhadap proses pembelajaran melalui metode presentasi di PBI Stain Metro untuk memperoleh data yang valid.
       Penentuan sampel penelitian dilakukan dengan teknik random sampling dengan jenis typical case sampling, yaitu peneliti dengan sengaja melibatkan unit yang dipandang tipikal dengan fenomena yang sedang dikaji. Dalam studi ini, peneliti memilih 30 kuesioner sebagai sampel yang terdiri dari 19 mahasiswa dari semester 6 dan 11 mahasiswa dari semester 4. Dalam penelitian ini, peneliti memilih sampel penelitian terhadap mahasiswa PBI yang telah mengambil semua mata kuliah yang diampukan kepada mahasiswa Stain Metro. Partisipan telah memahami tiap komponen-komponen dalam pembelajaran sehingga hasil penilitian menjadi valid.
       Berdasarkan studi ini, peneliti juga menggunakan dokumentasi dan kuesioner dalam mengumpulkan data. Dokumentasi tersebut dalam bentuk visual. Selain itu, kuesioner dalam studi ini digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan mahasiswa terhadap proses pembelajaran melalui metode presentasi di PBI STAIN Metro terhadap pelayanan yang diberikan oleh PBI STAIN Metro dalam proses pembelajaran.

D. Teknik Analisis Data
19
        Teknik dan prosedur analisis data yang digunakan peneliti melalui enam langkah sebagaimana yang diajukan oleh Creswell sebagai berikut. (1) Menyusun dan menyiapkan data, (2) membaca seluruh data secara seksama, (3) melakukan kodifikasi data (coding), (4) mendeskripsikan data (description), (5) menyajikan hasil deskripsi melalui narasi (narrative passage), dan (6) menginterpretasi atau memberi makna pada data.[23]
E. Pendekatan
       Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan studi kasus (case study). “Studi kasus dalam rangka pelayanan bimbingan merupakan metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan siswa secara lengkap dan mendalam, dengan tujuan memahami individualitas siswa dengan baik dan membantunya dalam perkembangan selanjutnya.”
       Oleh karena itu, peneliti menggunakan pendekatan studi kasus yang berkaitan dengan masalah-masalah di PBI STAIN Jurai Siwo Metro khususnya yang berkaitan dengan tingkat keberhasilan mahasiswa terhadap proses pembelajaran melalui presentasi di PBI STAIN Jurai Siwo Metro. Data yang diperoleh ditampilkan secara jelas untuk dijadikan data visual valid dalam bentuk gambaran masalah-masalah yang ada di PBI STAIN Jurai Siwo Metro, terutama mengenai proses pembelajaran yang ada.





























BAB IV
PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
Pada bab ini, peneliti menyajikan hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara dan angket dari pedoman wawancara dan angket yang telah disusun sebelumnya sebagai metode penelitian utama untuk mendeskripsikan dan membahas data yang telah diperoleh saat penelitian. Hasil penelitian ini diperoleh dengan teknik wawancara dan angket mendalam dengan narasumber sebagai bentuk pencarian data dan observasi langsung di lapangan yang kemudian peneliti analisis.
A.    Kondisi Peserta Didik Saat Melakukan Kegiatan Pembelajaran Melalui Metode Presentasi

Kegiatan pembelajaran pada umumnya di arahkan pada ranah keefektifan belajar mengajar yang kondusif selama proses pelaksanaan di dalamnya. Peserta didik dapat melaksanakan kegiatan presentasi sebagai metode untuk memahami teori secara terstruktur dan sesuai rencana pembelajaran. Proses kegiatan pembelajaran yang diharapkan mampu untuk di mengerti secara runtut baik teori ataupun penalaran terhadap sumber belajarnya. Presentasi sebagai metode pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sangat pribadi, dan juga faktor yang terikat dengan jenis materinya. Materi ketrampilan dan sikap dalam pelaksanaan presentasi tentu lebih bak di dekati memakai pola kondisioning, sedang materi pengetahuan memakai belajar kognitif.
Dalam proses kerja nyata kegiatan pembelajaran di STAIN saat ini sebagian besar belum dapat dikatakan berhasil. Dikarenakan, metode presentasi yang di laksanakan secara tidak seimbang. Artinya, pemateri kurang ada kesiapan untuk menjadi sumber belajar aktif atau pengkondisian yang tidak maksimal. Sebagaimana, tujuan belajar adalah penetapan tujuan belajar yang tepat dirinci dengan tujuan-tujuan terstruktur dapat di terima dan tercapai keberhasilan usaha belajar. Apabila, sudah tercapai maka pembelajaran melalui presentasi dapatdikatakan berhasil.




B.  Proses Pembelajaran Melalui Metode Presentasi di PBI STAIN Jurai Siwo Metro
       Pembelajaran merupakan proses komunikasi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar terhadap suatu lingkungan belajar mengajar. Dengan demikian, pembelajaran dapat dikatakan sebagai proses belajar yang dirancang oleh guru untuk membangun kreativitas dalam berpikir; yang bertujuan untuk mendorong kemampuan berpikir siswa dan dapat meningkatkan kompetensi siswa dalam membentuk pengetahuan yang baru sebagai usaha untuk meningkatkan penguasaan yang tepat terhadap bahan pelajaran.
       Menurut konteks ini, peran guru bukan semata-mata memberikan informasi, melainkan juga  memberi pengarahan dan fasilitas belajar (directing and facilitating the learning) agar proses belajar dapat berjalan secara optimal dan efektif. Berdasarkan pernyataan tersebut, pembelajaran mengandung arti bahwa setiap kegiatan yang dirancang untuk menunjang seseorang dalam mempelajari, memahami dan menguasai suatu kemampuan dan hal yang baru agar proses pembelajaran menjadi lebih efektif.
       Pembelajaran yang efektif juga terdapat pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pembelajar. Pada saat ini, telah ada perubahan perspektif terhadap pembelajaran yaitu pembelajaran bukan lagi berpusat pada pendidik, akan tetapi berpusat pada peserta didik. Dalam hal ini telah diuraikan 3 pendekatan dalam pembelajaran yang efektif yakni (1) independent learning (belajar mandiri), (2) problem-based learning (belajar berdasarkan masalah), dan (3) integrated learning (pembelajaran terpadu).[24]
       Proses pembelajaran efektif bagi orang dewasa dapat dilakukan dengan menggunakan metode presentasi yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Pembelajaran tersebut dapat dilakukan dalam sistem pendidikan kampus terpadu yang mengarah pada pembinaan kemandirian seutuhnya. Proses pendidikan terpadu ini sudah lama dilaksanakan oleh lembaga pendidikan berbasis ilmu agama layaknya STAIN Jurai Siwo Metro. Lebih dari itu, sistem pendidikan didalamnya banyak menggunakan metode presentasi yang mampu melaksanakan pembelajaran yang berakar pada keyakinan hidup dan kemandirian seseorang dalam mengungkapkan suatu gagasan atau ide-ide baru.
       Sesuai dengan wataknya, metode presentasi memiliki ciri khas pembelajaran dengan cara penyampaian melalui penjelasan informasi oleh penyampai pesan (dosen, guru, instruktur atau mahasiswa yang ditugaskan untuk memaparkan sesuatu baik ide, gagasan, ataupun penemuan). Presentasi merupakan proses komunikasi yang terdiri atas penyampaian pesan (presenter). Pesan ini sendiri yakni berbagai informasi yang ingin disampaikan dan (audiens) atau penerima pesan yakni orang yang menerima penjelasan.
       Sebagaimana halnya dalam sebuah proses komunikasi, adakalanya pesan yang disampaikan sulit ditangkap atau dipahami karena munculnya berbagai hambatan (noise), baik gangguan yang datang dari penyampaian pesan (presenter) seperti guru, dosen atau instruktur, atau gangguan yang muncul dari audience (siswa, mahasiswa, dan peserta didik ) itu sendiri sebagai penerima pesan.
       Dalam proses pembelajaran, baik di lembaga pendidikan formal atau di lembaga pendidikan non-formal termasuk pelatihan-pelatihan, media presentasi merupakan media yang sering dimanfaatkan. Hal ini disebabkan karena proses pembelajaran atau pelatihan tidak terlepas dari proses penyajian materi. Oleh karenanya, guru, dosen atau instruktur  perlu memahami secara praktis pemanfaatan media ini.
       Dengan memahami cara kerja dan pemanfaatan media tersebut, kita memahami bahwa pembelajaran secara mandiri menjadi sangat penting. Dengan kemampuan kita dalam belajar secara mandiri, kita akan mudah mengeluarkan gagasan seperti apa yang kita inginkan. Sebaliknya, jika pikiran kita lepas kendali atau tidak fokus, sehingga terfokus kepada handphone ataupun sibuk mengobrol dengan teman, maka kita terus akan mendapatkan penderitaan-penderitaan yang disadari maupun tidak disadari; seperti tidak mengerti materi apa yang sedang dan telah dijelaskan oleh pemateri. Selanjutnya, semua pengalaman hidup yang berasal dari lingkungan kerabat, sekolah, televisi, internet, buku, majalah dan sumber lainnya menambah pengetahuan yang akan mengantarkan seseorang memiliki kemampuan yang semakin besar untuk dapat menganalisis dan menalar objek luar. Mulai dari sinilah peran pikiran sadar menjadi sangat dominan. Semakin banyak informasi yang diterima dan semakin matang sistem kepercayaan dan pola pikir yang terbentuk, maka semakin jelas tindakan, kebiasaan, dan karakter unik dari masing-masing individu. Dengan kata lain, setiap individu akan memiliki kepercayaan, citra diri dan kebiasaan menyampaikan pendapat yang unik. Jika sistem atau teknik pembelajarannya benar dan selaras, karakternya baik, dan konsep kehidupannya bagus, maka pembelajaran menggunakan suatu metode, terutama metode presentasi akan berjalan lancar.



C.  Penggunaan Metode Presentasi Dalam Proses Pembelajaran
       Pada dasarnya, efektifitas pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik ditinjau dari pendidik maupun dari peserta didik. Pembelajaran yang efektif juga dipengaruhi oleh perencanaan guru. Menurut Burden dan Byrd, perencanaan pembelajaran berkaitan dengan tindakan yang diambil oleh pendidik dalam mengelola, menerapkan, dan mengevaluasi hasil pembelajaran.[25] Oleh karena itu, metode presentasi yang dianggap sebagai metode yang paling efektif diterapkan dapat menjadi metode yang tepat dalam pendidikan di tingkat atas.
       Presentasi yang tadi dijelaskan dengan cara penyampaian melalui penjelasan informasi oleh penyampai pesan (dosen, guru, instruktur atau mahasiswa yang ditugaskan untuk memaparkan sesuatu baik ide, gagasan, ataupun penemuan); berperan penting dalam proses pembelajaran efektif bagi orang dewasa (layaknya mahasiswa/i). Presentasi merupakan proses komunikasi yang terdiri atas penyampaian pesan (presenter). Pesan ini sendiri yakni berbagai informasi yang ingin disampaikan dan (audiens) atau penerima pesan yakni orang yang menerima penjelasan.
       Dalam proses pembelajaran, tidak selamanya guru, dosen atau instruktur harus melakukan presentasi. Terdapat sejumlah pertimbangan yang harus diperhatikan kapan sebaiknya presentasi tersebut dilakukan. Berikut ini pertimbangan-pertimbangan itu dijelaskan secara singkat.
1.    Manakala materi pelajaran tidak bersifat baru, sehingga banyak tersedia di berbagai sumber belajar, sebaiknya presentasi dihindari.
2.    Apabila yang ingin disampaikan ialah materi pelajaran yang bersifat konsep, prinsip yang memerlukan pembuktian, atau berupa prosedur dan cara kerja dari sesuatu, lebih baik presentasi dihindari.
3.    Presentasi dapat dilakukan manakala akan menyampaikan bahan-bahan baru, serta kaitannya dengan yang akan dan harus dipelajari siswa (overview).
4.    Presentasi dilakukan manakala menginginkan agar audiens atau siswa memiliki gaya model intelektual tertentu, misalnya agar siswa dapat mengingat bahan pelajaran sehingga ia akan dapat mengungkapkanya kembali manakala diperlukan.
5.    Jika lingkungan tidak mendukung untuk menggunakan strategi yang  berpusat pada siswa, misalnya tidak adanya sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
6.    Presentasi dilakukan manakala jumlah audiens relatif banyak, sehingga tidak mungkin digunakan metode lain.
7.    Presentasi dilakukan manakala waktu yang tersedia terbatas, sedangkan materi pelajaran cukup luas.

D.  Analisis Penggunaan Metode Presentasi di PBI STAIN Jurai Siwo Metro
       Penggunaan metode presentasi seharusnya berangkat dari konsep dasar suatu pendidikan di tingkat menengah ke atas. Setiap individu dilahirkan dengan akal yang baik yang dapat dipergunakan dalam menyampaikan suatu ide atau gagasan.
       Seorang ahli psikologi berkebangsaan swiss, C. Jung membagi individu secara psikologis menjadi dua yaitu ekstrovert dan introvert. Seseorang yang bersifat ekstrovert cenderung menyenangi cara belajar dengan melakukan interaksi dengan lingkungannya, bicara dengan orang lain atau mencari pengalaman. Adapun seorang introvert lebih menyenangi belajar dengan cara berpikir sendiri tanpa ada gangguan dari lingkungannya (Craton, 1996). Pada dasarnya, setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk menjadi salah satu dari kedua sifat tersebut, meskipun tidak ada yang mutlak. Dalam arti, seorang introvert bukan sama sekali tidak mempunyai ciri-ciri ekstrovert atau sebaliknya.
       Berkaitan dengan hal tersebut di atas, mahasiswa sebagai orang yang sudah dianggap dewasa akan lebih baik jika diperlakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan karakteristik mereka; khususnya karakteristik psikologisnya. Hal itu terjadi karena karakteristik psikologis akan mempengaruhi seseorang dalam bekerja sama dengan orang lain (dalam suatu kelompok), seperti cara memecahkan masalah, membuat keputusan, membuat rencana belajar, dan juga cara belajar secara umum. Kesemuanya itu akan mempengaruhi seseorang pada gaya belajarnya (learning style). Yang dimaksud gaya belajar adalah kecenderungan seseorang untuk menggunakan cara tertentu dalam belajar sehingga akan dapat belajar dengan baik.
       Enam dari 10 mahasiswa/i di PBI STAIN Jurai Siwo Metro mengatakan bahwa metode presentasi tidak cocok digunakan di PBI STAIN Jurai Siwo Metro karena terdapat beberapa mata pelajaran yang diharuskan hanya cocok menggunakan metode teaching center dalam proses pembelajarannya. Mereka juga sangat menyayangkan adanya beberapa mata pelajaran basic skill yang dipresentasikan; sedangkan baiknya hanya fokus terhadap penjelasan satu orang saja. Seperti pelajaran grammar, yang hampir sama halnya dengan matematika, tentu saja tidak dapat dipresentasikan karena terdapat ilmu pasti didalamnya; yang sama sekali tidak dapat diperdebatkan sebagai ciri dari metode presentasi tersebut.


       Di bawah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai presentasi sebagai titik fokus penggunaan metode di PBI STAIN Jurai Siwo Metro.
1.    Merancang  Bahan Presentasi
       Merancang bahan presentasi merupakan langkah penting yang harus dilakukan sebelum melakukan proses presentasi. Ada empat langkah yang harus dilakukan dalam merancang bahan presentasi, yaitu:
a.    Merumuskan tujuan khusus (specifying objectives).
b.    Mendesain visual (designing visual).
c.    Memilih bentuk tulisan (selecting lettering).
d.   Melakukan evaluasi dan revisi (evaluation and revision).
2.    Pelaksanaan Presentasi
       Terdapat langkah-langkah sebelum melaksanakan presentasi, yakni persiapan, pelaksanaan dan penutup.[26]
a.    Persiapan
       Langkah persiapan adalah langkah sebelum pelaksanaan presentasi. Keberhasilan dalam melaksanakan presentasi akan ditentukan oleh langkah persiapan. Oleh karena itu, langkah persiapan ini perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh.
b.    Penyajian/Pelaksanaan
       Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Yang harus dipikirkan oleh setiap guru dalam penyajian ini adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan mudah ditanggap dan dipahami oleh siswa. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini. Diantaranya adalah penggunaan bahasa, intonasi suara, menjaga kontak mata dengan siswa, menggunakan humor atau candaan agar kelas tetap hidup dan segar melalui penggunaan kalimat atau bahasa yang lucu.[27]
3.    Standar dan Kriteria Penilaian Presentasi Makalah
       Metode presentasi yang banyak dipergunakan di tingkat menengah ke atas ialah dengan menggunakan presentasi makalah. Di sini, mahasiswa diharapkan membuat ringkasan dari setiap sub-sub judul yang sekiranya penting dan perlu untuk dibahas lebih lanjut.
a.    Apa presentasi makalah itu?
       Presentasi makalah (term-paper) adalah menyajikan satu karangan ilmiah dengan sistematis kepada dosen atau mahasiswa lainnya tentang suatu pokok bahasan tertentu sebagai bagian dari tugas mata kuliah yang dimaksudkan, untuk mendukung pencapaian hasil belajar atau kompetensi.
b.    Apa arti pentingnya presentasi makalah?
       Sebuah presentasi makalah (term-paper) bertujuan untuk menunjukkan kemampuan sebuah performa hasil belajar atau kompetensi yang kompleks. Sebab, tugas ini menuntut kemampuan menyajikan pikiran pada level analisis, atau sintesis atau evaluasi.[28]

4.    Teknik Presentasi Dengan Menggunakan Audio-visual
       Seperti wawancara yang telah dilakukan sebelumnya, mahasiswa banyak yang mengeluhkan tentang penggunaan metode presentasi dalam mata pelajaran listening. Dengan audio-visual, seorang pembicara dapat memberikan keterangan yang lebih luas, rinci, serta mudah dicerna oleh para pendengarnya; sehingga cocok bagi mata pelajaran listening. Presentasi juga menjadi lebih menarik dan hidup. Pendengar juga dapat ikut menulis apabila ada yang dapat dipakai sebagai referensi. Presentasi audio-visual terdiri atas beberapa unsur pokok, unsur-unsur pokok tersebut harus diperhatikan, baik sebelum maupun saat presentasi berlangsung. Unsur-unsur pokok tersebut adalah:
a.    Materi presentasi.
b.    Tempat presentasi.
c.    Alat-alat audio, video atau audio-visual.
d.   Letak audio-visual di dalam ruangan.
e.    Alat peraga (slides, kaset video dan sebagainya).
f.     Tata cara peragaan dan presentasi.[29]



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Berdasarkan dengan penelitian yang kami lakukan dan juga didukung dengan data yang empirik dan juga keterangan dari para ahli kami dapat menyimpulkan bahwa, pada dasarnya melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan metode presentasi itu baik. Karena dapat menumbuhkan rasa kemandirian dan juga membuka pola pikir seorang mahasiswa.
Namun, seringkali presentasi dapat dikatakan kurang berhasil disebabkan oleh beberapa faktor yang seringkali diabaikan oleh seorang presenter. Seperti contohnya penguasaan materi presentasi oleh seorang presenter dan juga kelengkapan pendukung dalam presentasi.
Sebuah presentasi dapat dikatakan berhasil ketika penetapan tujuan pembelajaran padu dan diterima sehingga tercapailah keberhasilan usaha belajar. Proses pembelajaran dapat dikatakan padu jika materi yang disampaiakn oleh seorang presenter dapat diterima oleh audience.

B.     Saran
sebelum melakukan proses presentasi seorang presenter harus memperhitungkan segala hal yang dapat menghambat jalanya presentasi. Seperti contohnya penguasan materi oleh presenter, dan juga penguasaan terhadap audience.




[1]Husnayetti, “Tingkat Kepuasan Mahasiswa Dan Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi X”, Jurnal Liquidity, (Jakarta Selatan: STIE Ahmad Dahlan Jakarta), Volume 1, hal. 115.
[2]Muhammad Noer, Presentasi Memukau Bagaimana Menciptakan Presentasi Luar Biasa, (Singapura: Muhammad Noer ed., 2012), hal. 7.
[3]Husnayetti, “Tingkat Kepuasan Mahasiswa Terhadap Proses Pembelajaran di Perguruan Tinggi X, Jurnal Liquidity, (Jakarta Selatan: STIE Ahmad Dahlan Jakarta), Volume 1, hal. 115-124.
[4]Prof. Dr. H. Karwono, M.Pd., Belajar dan Pembelajaran serta Pemanfaatan Sumber Belajar, (Ciputat: Penerbit Cerdas Jaya, 2010), hal.2.
                [5]Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M.Pd., Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2008), ed.1, hal.164.
                [6]Ibid., hal. 29.
[7]Ibid., hal. 34.
[8]Ibid., hal. 35.
[9]Center for Teaching Staff Development IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Desain Pembelajaran di PerguranTinggi, hal. 4.
[10]Ibid., hal. 61.
[11]Ibid., hal. 62.
[12]Ibid.,
[13]Sri Anitah W., Strategi Pembelajaran, hal. 12.22.
[14]Ibid. hal. 12.22.
[15]Ibid., hal. 12.24.
[16]Wina Sanjaya, Media Komunikasi Pembelajaran, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2013), hal. 169.
[17]Ibid., hal. 172.
[18]Ibid., hal. 188.
[19]Winasanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Prenada Media, 2013), hal. 190.
[20]Bermawi Munthe, Desain Pembelajaran, (Jogjakarta: Pustaka Innsan Madani, 2014), hal. 134.
[21]Hudoro Sameto, MBA, Cara Berbicara dan Presentasi dengan Audio-visual, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2000), hal. 62.
[22] P3M Stain Jurai Siwo Metro, “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah”, 2011, hal. 21.
[23]John W. Creswell, “Research Design Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches”, (Lincoln: Sage publication, 2003), hal. 191.
[24]Sri Anitah W., Strategi Pembelajaran, hal. 12.24.
[25]Ibid., hal. 12.22.
[26]Wina Sanjaya, Media Komunikasi Pembelajaran, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2013), hal. 169.
[27]Winasanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Prenada Media, 2013), hal. 190.
[28]Bermawi Munthe, Desain Pembelajaran, (Jogjakarta: Pustaka Innsan Madani, 2014), hal. 134.
[29]Hudoro Sameto, MBA, Cara Berbicara dan Presentasi dengan Audio-visual, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2000), hal. 62.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswa Dan Internet.

listening 3