MAKALAH PRESENTASI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dunia pendidikan merupakan satu unsur
penting dalam kehidupan manusia. Didalamnya terdapat kajian yang mendorong
lembaga-lembaga pendidikan untuk selalu berupaya menganalisis dunia pendidikan
yang bersifat dinamis dan berubah setiap waktu. Salah satu aspek yang terdapat
dalam dunia pendidikan adalah pembelajaran. Pembelajaran ialah suatu metode
atau cara guna mengolah kemampuan kognitif, afektif maupun ranah psikomotorik.
Diperlukan kemampuan berinteraksi antara satu dengan lainnya melihat betapa pentingnya
pembelajaran dalam dunia pendidikan.
Melihat Perguruan Tinggi sebagai sektor
teratas dalam mengolah daya fikir seorang pendidik maupun peserta didik, tidak
diragukan lagi bahwa haruslah ada metode terbaik yang digunakan untuk
menciptakan kenyamanan dalam menangkap setiap materi yang disampaikan; agar
menumbuhkan persaingan sehat di dunia luar. Menurut Simonson, agar dapat
memenangkan persaingan perlu memenuhi apa yang diinginkan mahasiswa.[1]
Maka dari itu, Perguruan Tinggi harus mempersiapkan generasi penerus yang mampu
bersaing dengan disediakannya pendidik professional yang menerapkan metode
terbaik dalam proses belajar-mengajar.
Salah satu metode yang kerap digunakan
ialah metode presentasi. Suatu metode di mana pendidik mengarahkan mahasiswa
untuk menyajikan hasil diskusi. Metode ini berkaitan dengan keberhasilan
seseorang sebagai seorang presenter dalam kemampuan berkomunikasi dengan orang
lain.
|
1
|
Meskipun metode pembelajaran di
Perguruan Tinggi sudah banyak digunakan, namun, masih sedikit tingkat
keberhasilan yang dicapai dengan menggunakan metode presentasi di Program Studi
Bahasa Inggris. Oleh karena itu, studi ini berusaha meneliti tentang tingkat
keberhasilan mahasiswa dalam pembelajaran menggunakan metode presentasi di PBI
STAIN Jurai Siwo Metro. Dalam ruang
lingkup proses pembelajaran di PBI STAIN Metro, mahasiswa masih kurang mengerti
secara gamblang pengertian maupun contoh konkret dari materi yang ada; seperti
pembelajaran grammar yang menggunakan metode presentasi terasa kurang tepat,
kehadiran dosen dalam proses belajar mengajar yang masih rendah, dan
ketidak-tertarikan mahasiswa dengan metode presentasi tersebut.
Berikut ini adalah hasil data pre-survey dari penulis yang diambil
dari kegiatan pembelajaran mahasiswa STAIN pada hari kamis, 23 April 2015:
Ketidak-hadiran dosen tepat waktu pada saat
dilaksanakannya presentasi. (Gambar 1)
Gambar di
atas merupakan bentuk ketidak-berhasilan mahasiswa dengan metode yang
digunakan. Gambar di atas memuat tentang keluhan beberapa mahasiswa tentang
perkuliahan yang kurang aktif dengan penggunaan metode presentasi.
Berikut ini
adalah hasil data pre-survey dari
penulis yang diambil dari kegiatan pembelajaran mahasiswa STAIN pada hari
kamis, 23 April 2015:
Ketidak-tertarikan mahasiswa terhadap metode presentasi. (Gambar 2)
Gambar di atas
menunjukan tentang ketidak-tertarikan mahasiswa PBI terhadap metode presentasi
dalam proses belajar mengajar. Hal tersebut mengakibatkan suasana kelas yang
tidak kondusif.
Berdasarkan gambar dan paragraf di atas,
telah menunjukkan bahwa studi ini layak dilakukan karena studi ini mengukur
tingkat keberhasilan mahasiswa melalui metode presentasi yang diberikan oleh
dosen PBI STAIN Metro dalam hal proses belajar mengajar.
Studi ini dimaksudkan untuk mengkaji
tentang tingkat keberhasilan mahasiswa terhadap metode presentasi yang digunakan
di PBI STAIN Metro. Studi ini menganalisis tingkat keberhasilan mahasiswa dalam
proses belajar mengajar menggunakan metode presentasi, menganalisis variabel
yang mendorong keberhasilan mahasiswa dalam proses belajar, dan menganalisis
tingkat kesesuaian antara pembelajaran dan metode yang digunakan.
Memahami tingkat keberhasilan mahasiswa
terhadap metode presentasi yang digunakan di PBI STAIN Metro, maka diharapkan
hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan yang tepat dalam rangka
meningkatkan mutu pendidikan khususnya keberhasilan mahasiswa dalam proses
belajar mengajar di PBI STAIN Metro.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
studi ini, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah tingkat keberhasilan
mahasiswa terhadap metode presentasi yang diberikan oleh dosen?
2. Bagaimanakah suasana pembelajaran ketika sedang dilaksanakan presentasi?
C. Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk
mengetahui tingkat keberhasilan mahasiswa melalui metode presentasi.
2.
Untuk
mengetahui suasana pembelajaran yang seperti apa ketika sedang
dilaksanakannya presentasi.
D. Urgensi Dan Manfaat Penelitian
1.
Urgensi
Penelitian
Konteks
perguruan tinggi sebagai fokus terhadap tingkat keberhasilan
mahasiswa sangatlah penting bagi lembaga untuk mengetahui seberapa berhasil metode yang diberikan oleh dosen. Selanjutnya,
hasil studi ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sebuah rujukan bagi PBI
STAIN Metro dalam meningkatkan kualitas pembelajaran
terhadap mahasiswa.
\
2.
Manfaat
Penelitian
Manfaat dari
studi ini adalah:
a. Bagi mahasiswa, hasil studi ini diharapkan
dapat memberikan pemahaman bagi
mahasiswa dalam mengetahui tingkat keberhasilan yang telah dicapai oleh dosen PBI
STAIN Metro dalam proses pembelajaran.
b.
Bagi dosen, hasil studi ini diharapkan dapat digunakan dosen dalam meningkatkan
strategi atau metode terbaik yang digunakan dalam proses
pembelajaran.
c. Bagi Institusi, hasil studi ini diharapkan
dapat memberikan manfaat bagi institusi agar mampu meningkatkan pelayanan
terhadap mahasiswa dalam proses pembelajaran.
d. Bagi Peneliti, hasil dari studi ini diharapkan dapat
memberikan manfaat bagi peniliti untuk dapat memperkaya khazanah teori dalam
melakukan penelitian tentang kajian tingkat keberhasilan
terhadap proses pembelajaran.
BAB
II
KERANGKA TEORI
A.
Kajian Riset
Sebelumnya
Studi ini berjudul Analisis Tingkat
Keberhasilan Mahasiswa Terhadap Proses Pembelajaran Melalui Metode Presentasi
di PBI STAIN Metro
yang belum pernah diteliti sebelumnya. Peneliti telah menemukan
penelitian sebelumnya yang dijadikan sebagai sebuah rujukan terhadap studi ini
yang berjudul Analisis Tingkat Kepuasan
Mahasiswa Terhadap Proses Pembelajaran di Perguruan Tinggi X yang diteliti
oleh Dwi Febriyanto dari STAIN Jurai Siwo Metro.[3]
Berdasarkan studi ini, peneliti menggunakan data sebagai
tinjauan pustaka. Dalam penelitian sebelumnya,
peneliti menganalisis tingkat kepuasan mahasiswa terhadap proses pembelajaran
di perguruan tinggi tersebut. Dalam penelitian sebelumny,a peneliti menggunakan teknik Importance Performance Analysis (IPA). Teknik analisis ini
digunakan untuk memetakan hubungan antara harapan mahasiswa terhadap kinerja
pelayanan yang diberikan oleh perguruan tinggi yang diteliti.
Penelitian
sebelumnya telah diketahui bahwa proses pembelajaran yang diberikan oleh sebuah
perguruan tinggi di setiap prodinya masih kurang optimal. Dari data tersebut, banyak mahasiswa yang mengeluh karena kurang
konsistennya dosen dalam hal kehadiran dan pembagian jadwal kuliah, serta
penyampaian materi yang diberikan oleh dosen belum sesuai dengan kondisi nyata.
Hasil dari
penelitian sebelumnya adalah tingkat kepuasaan mahasiswa secara umum masih
rendah dengan nilai rata-rata yang belum sesuai dengan harapan mahasiswa dan
pelayanan yang diberikan oleh perguruan tinggi yang diteliti dalam proses
belajar mengajar.
B. Pengertian Belajar
Berdasarkan KBBI, definisi belajar adalah
perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Dengan
demikian, belajar merupakan sebuah tindakan seseorang dalam usaha untuk merubah
tingkah laku ke arah yang lebih baik.
Menurut kimble (1961:6),
belajar adalah perubahan yang relatif permanen di dalam behavioral
potentionality (potensi behavioral) sebagai akibat dari reinforced practice
(praktik yang diperkuat). Senada dengan hal tersebut, Mayer (1982:1040)
menyebutkan bahwa belajar adalah menyangkut adanya perubahan perilaku yang
relatif permanen pada pengetahuan atau perilaku yang relatif permanen pada pengetahuan atau perilaku seseorang
karena pengalaman.
Daripada
itu, Bell-Gredler menjelaskan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan
oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam kemampuan (competencies),
keterampilan (skills), dan sikap (attitude) yang diperoleh secara bertahap dan
berkelanjutan. Kemudian, Gagne
mengungkapkan bahwa belajar
merupakan sebuah sistem yang di dalamnya terdapat berbagai unsur yang saling
terkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku.[4]
Menurut Jean
Piaget, seorang psikolog Swiss mengemukakan
bahwa dalam belajar ada dua proses
perkembangan yang terjadi dalam pertumbuhan kognitif anak, yaitu: (1)
proses asimilasi dalam proses ini, anak dapat
mengubah pengetahuan yang telah ia
miliki dengan mengadaptasi wawasan yang baru. (2) proses akomodasi dalam proses ini, anak dapat mengubah dan mengembangkan wawasan yang
telah dimiliki dengan menyesuaikan wawasan baru yang lebih baik. [5]
Berdasarkan
pandangan di atas, dapat dikatakan bahwa anak sudah memiliki kemampuan dalam
mengolah dan menyusun informasi baru yang ia dapatkan dan menyesuaikannya
dengan wawasan yang telah dimiliki untuk memperoleh perkembangan kognitif yang
lebih baik.
Menurut
pandangan Carl R. Rogers (ahli psiko-terapi)
menyatakan bahwa proses belajar yang berpusat pada murid memberikan keleluasaan
dalam menentukan kegiatan yang dinginkan yang dapat dipertanggung jawabkan.[6] Dalam
perspektif di atas, Rogers menekankan pada pembelajaran yang
bertujuan untuk membimbing siswa ke arah kebebasan dan kemerdekaan. Berdasarkan
pernyataan tersebut, dapat dipahami bahwa setiap siswa
memiliki kebebasan dalam memilih pembelajaran yang diinginkan sesuai dengan konsekuensi
yang bisa dipertanggung-jawabkan. Dengan
demikian, siswa dapat belajar untuk bertanggung jawab sesuai
apa yang dilakukan.
Jerome S. Bruner, seorang ahli psikologi perkembangan dan psikologi
kognitif menjelaskan bahwa belajar adalah memilih, menjaga
dan mentransformasikan pengetahuan yang diperoleh secara optimal.[7]
Pernyataan ini mengemukakan bahwa belajar merupakan kemampuan dalam mengelola
informasi yang diperoleh dengan menyeleksi pengetahuan yang ada, menyimpan
pengetahuan yang telah diperoleh, serta
mampu mentransformasikan ke dalam bentuk
konseptual agar dapat dipahami secara luas.
Bruner
menambahkan terdapat 3 fase dalam proses belajar,
yaitu:
a.
Informasi
Proses belajar, tentunya kita akan memperoleh informasi; informasi tersebut bisa memperkuat, menambahkan
atau berlawanan dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
b.
Transformasi
Informasi yang
telah diperoleh, harus dipahami, dikaji dan diaplikasikan
ke dalam bentuk yang lebih abstrak, sehingga diperoleh
informasi yang lebih jelas.
c.
Evaluasi
Merupakan fase
terakhir dalam proses belajar. Dalam fase ini, pengetahuan
yang telah terbentuk hendaknya diukur kembali untuk dapat dimanfatkan dalam
memahami aspek-aspek yang lain.[8]
Menurut ketiga
fase di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan rangkaian
kegiatan yang saling berintegrasi satu sama lain yang dapat menghasilkan sebuah
hasil belajar yang optimal. Berdasarkan beberapa definisi para ahli yang telah
diuraikan di atas, dapat diketahui
bahwa dalam pandangan Skinner, belajar
merupakan pemberian stimulus terhadap siswa, sehingga tanpa adanya stimulus
yang diberikan siswa tidak akan memperoleh suatu pengetahuan dan informasi
apapun.
Berbeda dengan
pandangan Piaget, bahwa belajar berorientasi pada perkembangan kognitif anak,
sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat dikembangkan sesuai dengan kemampuan
kognitif anak. Akan tetapi, dalam
perspektif Rogers dan Bruner, belajar memiliki
definisi yang berbeda dari kedua ahli sebelumnya. Dalam
pandangan ini, dikemukakan bahwa belajar dapat mendorong siswa
untuk berperan aktif dalam memahami pengetahuan yang ada untuk dapat
diaplikasikan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Berdasarkan
definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli di atas,
peneliti dapat menyimpulkan
bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku atau perilaku pada
diri seseorang yang mengacu pada perkembangan diri agar menjadi lebih baik
C. JENIS-JENIS BELAJAR
- Belajar arti kata-kata
Mengerti kata-kata merupakan dasar
terpenting. Orang yang membaca akan mengalami kesukaran untuk memahami isi
bacaan jika tidak mengerti arti kata-kata. Karena ide-ide yang ada dalam suatu
kata atau kalimat hanya dapat dipahami dengan mengerti arti setiap kata. Belajar arti
kata-kata maksudnya adalah orang mulai menangkap arti yang terkandung dalam
kata-kata yang digunakan. Pada mulanya suatu kata sudah dikenal, tetapi belum
tahu artinya. Misalnya, pada anak kecil, dia sudah mengetahui kata “kucing”
atau “anjing”, tetapi dia belum mengetahui bendanya, yaitu binatang yang
disebutkan dengan kata itu. Namun lam kelamaan dia mengetahui juga apa arti
kata “kucing” atau “anjing”,. Dia sudah tahu bahwa kedua binatang itu berkaki
empat dan dapat berlari. Suatu ketika melihat seekor anjing dan anak tadi menyebutnya
“kucing”. Koreksi dilakukan bahwa itu bukan kucing, tetapi anjing. Anak itu pun
tahu bahwa anjing bertubuh besar dengan telinga yang cukup panjang, dan kucing
itu bertubuh kecil dengan telinga yang kecil dari pada anjing.
Setiap
pelajar atau mahasiswa pasti belajar arti kata-kata tertentu yang belum
diketahui. Tanpa hal ini, maka sukar menggunakannya. Kalau pun dapat
menggunakannya, tidak urung ditemukan kesalahan penggunaan. Mengerti arti
kata-kata merupakan dasar-dasar terpenting. Orang yang membaca akan mengalami
kesukaran untuk memahami isi bacaan. Karena ide-ide yang terpatri dalam setiap
kata. Dengan kata-kata itulah, para penulis atau pengarang melukiskan
ide-idenya kepada siding pembaca. Oleh karena itu, penguasaan arti kata-kata
adalah penting dalam belajar.
- Belajar Kognitif
Dalam belajar, seseorang tidak bisa
melepaskan diri dari kegiatan belajar kognitif. Belajar kognitif bersentuhan
dengan masalah mental. Kegiatan mental berproses ketika memberikan tanggapan
terhadap obyek-obyek yang diamati. Obyek-obyek yang diamati dihadirkan dalam
diri seseorang melalui tanggapan, gagasan, atau lambang yang merupakan sesuatu
bersifat mental. Misalnya, seseorang menceritakan hasil perjalanannya berupa
“pengalaman” kepada temannya. Ketika dia bercerita, dia tidak dapat
menghadirkan obyek-obyek yang pernah dilihatnya kepada temannya itu, dia hanya
dapat menggambarkan semua obyek itu dalam bentuk kata-kata.
Tak dapat
disangkal bahwa belajar kognitif bersentuhan dengan masalah mental. Objek-objek
yang diamati dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan, atau
lambang yang merupakan sesuatu bersifat mental. Misalnya, seseorang
menceritakan hasil perjalanannya berupa pengalamannya kepada temuannya. Ketika
dia menceritakan pengalamannya selama dalam perjalanan, dia tidak tidak dapat
menghadirrkan objek-objek yang pernah dilihatnya selama dalam perjalanan itu di
hadapan temannya itu, dia hanya dapat menggambarkan semua objek itu dalam
bentuk kata-kata atau kalimat. Gagasan atau tanggapan tentang objek-objek yang
dilihat itu dituangkan dalam kata-kata atau kalimat yang disampaikan kepada
orang yang mendengarkan ceritanya. Bila tanggapan berupa objek-objek materiil
dan tidak materiil telah dimiliki, maka seseorang telah mempunyai alam pikiran
kognitif. Itu berarti semakin banyak pikiran dan gagasan yang dimiliki
seseorang, semakin kaya dan luaslah alam pikiran kognitif orang itu. Belajar
kognitif penting dalam belajar. Dalam belajar, seseorang tidak bisa melepaskan
diri dari kegiatan belajar kognitif. Mana bisa kegiatan mental tidak berproses
ketika memberikan tanggapan terhadap ojek-objek yang diamati. Sedangkan belajar
itu sendiri adalah proses mental yang bergerak kea rah perubahan.
- Belajar menghafal
Menghafal adalah suatu aktivitas
menanamkan suatu materi verbal di dalam ingatan, sehingga nantinya dapat
diproduksikan (diingat) kembali secara harfiah, sesuai dengan materi yang asli.
Dalam menghafal, ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan yaitu mengenai
tujuan, pengertian, perhatian dan ingatan. Efektif tidaknya dalam menghafal
dipengaruhi oleh syarat-syarat tersebut. Menghafal tanpa tujuan menjadi tidak
terarah, menghafal tanpa pengertian menjadi kabur, menghafal tanpa perhatian
adalah kacau, dan menghafal tanpa ingatan adalah sia-sia.
- Belajar Konsep
Konsep atau pengertian adalah satuan
arti yang mewakili sejumlah obyek yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Orang
yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap obyek-obyek yang
dihadapi, sehingga obyek ditempatkan dalam golongan tertentu. Misalnya pada
bunga mawar, kenanga, angrek, dan melati ditemukan sejumlah ciri yang terdapat
pada semua bunga-bunga konkret itu, yaitu “mekar, bertangkai, berwarna, sedap
dipandang mata, berputik, dan berbenang sari”. Sejumlah ciri itu ditangkap
dalam pengertian “bunga” yang kemudian dilambangkan dengan kata “bunga”. Jadi,
konsep bunga itu dalam pengertian mekar, bertangkai, berwarna, sedap dipandang
mata, berputik, dan berbenang sari.Belajar konsep merupakan salah satu cara
belajar dengan pemahaman. Ciri khas dari konsep yang diperoleh sebagai hasil
belajar pengertian ini adalah adanya skema konseptual. Skema konseptual adalah
suatu keseluruhan kognitif, yang mencakup semua ciri khas yang terkandung dalam
suatu pengertian. Konsep
atau pengertian adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai
ciri-ciri yang sama, orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi
terhadap objek-objek yang dihadapinya, sehingga objek ditempatkan dalam
golongan tertentu. Objek-objek dihadirkan dalam kesadaran orang dalam bentuk
repressentasi mental tak berperaga. Konsep sendiri pun dapat dilambangkan dalam
bentuk suatu kata {lambang bahasa}.
Konsep
dibedakan atas konsep konkret dan konsep yang harus didefinisikan. Konsep
konkret adalah pengertian yang menunjuk pada objek-objek dalam lingkungan
fisik. Konsep ini mewakili benda tertentu, seperti meja, kursi, tumbuhan,
rumah, mobil, sepeda motor dan sebagainya. Konsep yang didefinisikan adalah
konsep yang mewakili realitas hidup, tetapi tidak langsung menunjuk pada
realitas dalam lingkungan hidup fisik, karena realitas itu tidak berbadan.
Hanya dirasakan adanya melalui proses mental. Misalnya, saudara sepupu, saudara
kandung, paman, bibi, belajar, perkawinan, dan sebagainya, adalah kata-kata
yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa, bahkan dengan mikroskop sekalipun.
Untuk memberikan pengertian pada semua kata itu diperlukan konsep yang
didefinisikan dengan menggunakan lambang bahasa.
Ahmad
adalah saudara sepupu Mahmud; merupakan kenyataan {realitas}, tetapi tidak
dapat diketahui dengan mengamati Ahmad dan Mahmud. Kenyataan itu dapat
diketahui dengan menggunakan lambang bahasa. Kata “saudara sepupu” dijelaskan.
Penjelasan atas kata “saudara sepupu” itulah yang dimaksudkan disini dengan
konsep yang didefinisikan. Berdasarkan konsep yang didefinisikan, didapatkan
pengertian, sauadara sepupu adalah anak dari paman atau bibi.
Akhirnya,
belajar konsep adalah berfikir dalam konsep dan belajar pengertian. Taraf ini
adalah taraf konprehensif. Taraf kedua dalam taraf berfikir. Taraf pertamanya
adalah taraf pengetahuan, yaitu belajar reseptif atau menerima.
- Belajar Kaidah
Kaidah adalah suatu pegangan yang
tidak dapat diubah-ubah. Kaidah merupakan suatu representasi (gambaran) mental
dari kenyataan hidup dan sangat berguna dalam mengatur kehidupan sehari-hari.
Orang yang mempelajari kaidah mampu menghubungkan beberapa konsep. Misalnya,
seseorang berkata, “besi dipanaskan memuai”, hal ini karena ia telah menguasai
konsep dasar mengenai “besi”, “dipanaskan” dan “memuai”, dan dapat menentukan
adanya suatu relasi yang tetap antara ketiga konsep dasar itu, maka dia dengan
yakin mengatakan bahwa “besi dipanaskan memuai”.
Selama belajar di sekolah atau diperguruan tinggi seseorang akan menemukan kaidah-kaidah, misalnya : setiap makhluk yang bernyawa pasti mat, belajar adalah berubah, udara yang lembab mengakibatkan besi berkarat, air yang dimasukkan dalam ruang bersuhu nol derajad akan membeku, perkembangan anak dipengaruhi oleh keturunan dan lingkungan.
Selama belajar di sekolah atau diperguruan tinggi seseorang akan menemukan kaidah-kaidah, misalnya : setiap makhluk yang bernyawa pasti mat, belajar adalah berubah, udara yang lembab mengakibatkan besi berkarat, air yang dimasukkan dalam ruang bersuhu nol derajad akan membeku, perkembangan anak dipengaruhi oleh keturunan dan lingkungan.
Belajar
kaidah {rule} termasuk dari jenis belajar kemahiran intelektual {intellectual
skill}, yang dikemukakan oleh Gagne. Belajar kaidah adalah bila dua konsep atau
lebih dihubungkan satu sama lain, terbentuk suatu ketentuan yang mereprensikan
suatu keteraturan. Orang yang telah mempelajari suatu kaidah, mampu
menghubungkan beberapa konsep. Misalnya, seseorang berkata, “besi dipanaskan
memuai”, karena seseorang telah menguasai konsep dasar mengenai “besi”,
“dipanaskan” dan “memuai”, dan dapat menentukan adanya suatu relasi yang tetap
antara ketiga konsep dasar itu {besi, dipanaskan, dan memuai}, maka dia dengan
yakin mengatakan bahwa “besi dipanaskan memuai”.
Kaidah
adalah suatu pegangan yang tidak dapat diubah-ubah. Kaidah merupakan suatu
representasi {gambaran} mental dari kenyataan hidup dan sangat berguna dalam
mengatur kehidupan sehari-hari. Hal ini berarti bahwa kaidah merupakan suatu
keteraturan yang berlaku sepanjang masa. Oleh karena itu, belajar kaidah sangat
penting bagi seseorang sebagai salah salah satu upaya penguasaan ilmu selama
belajar di sekolah atau di perguruan tinggi {universitas}.semoga uraian di atas
dapat menjadi penghubung dalam memahami belajar kaidah-kaidah di dalam menuntut
ilmu..
- Belajar berpikir
Berpikir adalah kemampuan jiwa untuk
meletakkan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan. Dalam belajar ini, orang
dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan. Masalah harus dipecahkan
melalui operasi mental, khususnya menggunakan konsep dan kaidah serta
metode-metode bekerja tertentu. Belajar berpikir sangat diperlukan selama
belajar di sekolah atau di perguruan tinggi.
Macam taraf
berfikir yaitu : taraf berpikir pengetahuan (belajar reseptif/menerima),
komprehensif Berpikir dalam konsep belajar pengertian), aplikasi (berpikir
menerapkan), analisis dan sistesis (berpikir menguraikan dan menggabungkan),
evaluasi (berpikir kreatif atau memecahkan masalah). Dalam belajar ini, orang
dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan, tetapi tanpa melalui
pengamatan dan reorganisasi dalam pengamatan.masalah harus dipecahkan melalui
operasi mental, khususnya menggunakan konsep dan kaidah serta metode-metode bekerja
tertentu.
Dalam
konteks ini ada istilah berpikir konvergen dan berpikir divergen. Berpikir
konvergen adalah berpikir menuju satu arah yang benar atau satu jawaban yang
paling tepat atau satu pemecahan dari suatu masalah.berpikir divergen adalah
berpikir dalam arah yang berbeda-beda, akan diperoleh jawaban-jawaban unit yang
berbeda-beda tetapi benar.
Konsep
Dewey tentang berpikir menjadi dasar untuk pemecahan masalah adalah sebagai
berikut.
a. Adanya kesulitan yang
dirasakan dan kesadaran akan adanya masalah.
b. Masalah itu diperjelas dan
dibatasi.
c. Mencari informasi atau data
dan kemudian data itu diorganisasikan.
d. Mencari hubungan-hubungan
untuk merumuskan hipotesis-hipotesis, kemudian hipotesis-hipotesis itu dinilai,
diuji, agar dapat ditentukan untuk diterima atau ditolak.
e. Penerapan pemecahan
terhadap masalah yang dihadapi sekaligus berlaku sabagai pengujian kebenaran
pemecahan tersebut untuk dapat sampai pada kesimpulan.
Menurut Dewey, langkah-langkah
dalam pemecahan masalah adalah sebagai berikut.
a. Kesadaran akan adanya
masalah.
b. Merumuskan masalah.
c. Mencari data dan merumuskan
hipotesis-hipotesis.
d. Menguji hipotesis-hipotesis
itu.
e. Menerima hipotesis yang
benar.
Meskipun
diperlukan langkah-langkah, menurut Dewey, tetapi pemecahan masalah itu tidak
selalu mengikuti urutan yang teratur, melainkan meloncat-loncat antara
macam-macam langkah tersebut. Lebih-lebih apabila orang berusaha memecahkan
masalah-masalah yang kompleks.
- Belajar Keterampilan motorik (motor skill)
Orang yang memiliki suatu
keterampilan motorik, mampu melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam
urutan tertentu, dengan koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan
secara terpadu.
- Belajar Estetis
Bentuk belajar ini bertujuan
membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan dalam berbagai bidang
kesenian. Belajar ini mencakup fakta, seperti ritme, tema dan komposisi,
relasi-relasi, seperti hubungan antara bentuk dan isi, struktur-struktur,
sistematika warna dan aliran-aliran dalam seni lukis dan karya seni lain.
D. Belajar Bagi Orang Dewasa
Seorang ahli psikologi berkebangsaan
swiss, C. Jung membagi individu secara psikologis menjadi dua yaitu ekstrovert dan introvert. Seseorang yang
bersifat ekstrovert cenderung menyenangi cara belajar dengan melakukan
interaksi dengan lingkungannya, bicara dengan orang lain atau mencari
pengalaman. Adapun seorang introvert lebih menyenangi belajar dengan cara
berpikir sendiri tanpa ada gangguan dari lingkungannya (Craton,
1996). Pada dasarnya, setiap manusia
mempunyai kecenderungan untuk menjadi salah
satu dari kedua sifat tersebut, meskipun tidak ada yang mutlak. Dalam arti,
seorang introvert bukan sama sekali tidak mempunyai ciri-ciri ekstrovert atau
sebaliknya.
Berkaitan dengan hal
tersebut di atas, mahasiswa sebagai orang yang sudah dianggap
dewasa akan lebih baik jika diperlakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan
karakteristik mereka; khususnya
karakteristik psikologisnya. Hal itu terjadi karena karakteristik psikologis
akan mempengaruhi seseorang dalam bekerja sama dengan orang lain (dalam suatu
kelompok), seperti cara memecahkan masalah, membuat keputusan, membuat rencana
belajar, dan juga cara belajar secara umum. Kesemuanya itu akan mempengaruhi
seseorang pada gaya belajarnya (learning
style). Yang dimaksud gaya belajar adalah kecenderungan seseorang untuk
menggunakan cara tertentu dalam belajar sehingga akan dapat
belajar dengan baik.
Berkaitan dengan
gaya belajar, ada beberapa teori yang salah satu
diantaranya adalah teori yang dikemukakan oleh
D. A. Kolb. Dia menyatakan ada empat tahapan dalam
belajar, yaitu sebagai berikut.
1.
Pengalaman
kongkret, yaitu terlibat secara langsung dalam suatu pengalaman baru.
2.
Observasi
reflektif, yaitu melakukan observasi terhadap orang lain dalam melakukan
eksperimen, atau mengembangkan observasi terhadap pengalaman yang pernah
dialami
3.
Konseptualisasi
abstrak, yaitu menciptakan suatu konsep atau teori untuk menjelaskan observasi.
4.
Eksperimen
aktif, yaitu menggunakan teori-teori untuk memecahkan suatu masalah dan membuat
keputusan.
Keempat tahapan
belajar tersebut membentuk lingkaran yang disebut siklus belajar (learning cycle). Namun demikian, bukan
berarti bahwa seseorang dalam belajar harus melalui keempat tahapan tersebut,
tetapi lebih menyerupai pintu yang dapat dimasuki
oleh seseorang ketika belajar.[9]
Menurut
Lunandi (dalam Asmin, 2005), menyatakan proses pendidikan orang dewasa
bertujuan untuk mengembangkan kemampuan, memperkaya pengetahuan, meningkatkan
kualifikasi teknis, dan jiwa profesionalisme para pesertanya. Proses pendidikan
orang dewasa harus mengakibatkan perubahan sikap dan perilaku yang bersifat
(dapat dikategorikan) sebagai perkembangan pribadi, dan peningkatan partisipasi
sosial dari individu yang bersangkutan. Setiana (2005) menyatakan bahwa tujuan
dari pendidikan orang dewasa pada hakekatnya adalah terjadinya proses perubahan
perilaku menuju ke arah yang lebih baik dan menguntungkan hanya dapat terjadi
apabila ada perubahan-perubahan yang cukup mendasar dalam bentuk atau
peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sekaligus sikap.
Topatimasang
(dalam Asmin, 2005) berpendapat bahwa tujuan pendidikan didasarkan pada
anggapan bahwa tujuan utama pendidikan adalah menghasilkan keseluruhan
pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Asumsi ini menyiratkan
dua hal, yakni:
- Jumlah pengetahuan cukup sedikit untuk dikelola secara menyeluruh oleh sistem pendidikan dan
- Kecepatan perubahan yang terjadi dalam tata budaya atau masyarakat cukup lambat sehingga memungkinkan untuk menyimpan pengetahuan dalam kemasan tertentu serta menyampaikannya sebelum pengetahuan itu sendiri berubah.
E. Andragogi
Andragogi adalah salah satu pendekatan
dalam pendidikan yang dipopulerkan oleh Malcolm Knowlws pada thaun 1986
(Cranton, 1992). Knowles menyatakan bahwa andragogi adalah the art and science of
helping adult learn, yaitu seni dan ilmu yang berkaitan dengan cara-cara
membantu orang dewasa belajar. Hal itu berbeda dengan pedagogi, yaitu sebagai the art and science of teaching childern
atau seni dan ilmu yang berkaitan dengan cara mengajar.
Pendekatan
andragogi mempunyai beberapa asumsi
dasar, diantaranya yang cukup dikenal ada empat hal, yaitu (1) self-directedness atau kemampuan
mengarahkan diri, (2) pengalaman pembelajar atau mahasiswa, (3) kesiapan
belajar berdasarkan kebutuhan, dan (4) orientasi bahwa belajar itu adalah kehidupan. Orang dewasa sebagai peserta didik
sangat unik dan berbeda dengan anak usia dini dan anak remaja. Proses
pembelajaran orang dewasa akan berlangsung jika dia terlibat langsung, idenya
dihargai dan materi ajar sangat dibutuhkannya atau berkaitan dengan profesinya
serta sesuatu yang baru bagi dirinya. Permasalahan perilaku yang sering timbul
dalam program pendidikan orang dewasa yaitu mendapat hal baru, timbul
ketidaksesuaian (bosan), teori yang muluk (sulit dipraktikkan), resep/petunjuk
baru (mandiri), tidak spesifik dan sulit menerima perubahan (Yusnadi, 2004).
Malcolm
Knowles (1986), menyebutkan ada 4 (empat) prinsip pembelajaran orang dewasa,
yakni:
- Orang dewasa perlu terlibat dalam merancang dan membuat tujuan pembelajaran. Mereka mesti memahami sejauh mana pencapaian hasilnya.
- Pengalaman adalah asas aktivitas pembelajaran. Menjadi tanggung jawab peserta didik menerima pengalaman sebagai suatu yang bermakna.
- Orang dewasa lebih berminat mempelajari perkara-perkara yang berkaitan secara langsung dengan kerja dan kehidupan mereka.
- Pembelajaran lebih tertumpu pada masalah (problem-centered) dan membutuhkan dorongan dan motivasi.
Sedangkan Miller (1904), menyebutkan
prinsip pembelajaran bagi orang dewasa, adalah sebagai berikut:
- Peserta didik perlu diberikan motivasi bagi mengubah tingkah laku. Peserta didik perlu sedar tingkah laku yang tidak diingini dan mempunyai gambaran jelas berkenaan dengan tingkah laku yang diingini.
- Peserta didik mempunyai peluang mencoba tingkah laku yang baru.
- Peserta didik membutuhkan bahan-bahan pembelajaran yang dapat membantu kebutuhannya.
Karakteristik Peseta Didik
(Orang Dewasa)
Proses
belajar bagi orang dewasa memerlukan kehadiran orang lain yang mampu berperan
sebagai pembimbing belajar bukan cenderung digurui, orang dewasa cenderung
ingin belajar bukan berguru. Orang dewasa tumbuh sebagai pribadi dan memiliki
kematangan konsep diri, mengalami perubahan psikologis dan ketergantungan yang
terjadi pada masa kanak-kanak menjadi kemandirian untuk mengarahkan diri
sendiri, sehingga proses pembelajaran orang dewasa harus memperhatikan
karakteristik orang dewasa.
Karakteristik orang dewasa menurut
Knowles (1986) berbeda asumsinya dibandingkan dengan anak-anak. Asumsi yang
dimaksud adalah:
- Konsep dirinya bergerak dari seorang pribadi yang bergantung ke arah pribadi yang mandiri
- Manusia mengakumulasi banyak pengalaman yang diperolehnya sehingga menjadi sumber belajar yang berkembang
- Kesiapan belajar manusia secara meningkat diorientasikan pada tugas perkembangan peranan sosial yang dibawanya.
- Perspektif waktunya berubah dari suatu pengetahuan yang tertunda penerapannya menjadi penerapan yang segera, orientasi belajarnya dari yang terpusat pada pelajaran beralih menjadi terpusat pada masalah.
Terdapat beberapa pengandaian pembelajaran orang dewasa yang diberikan
oleh Knowles (1986), yakni:
- Orang dewasa perlu tahu mengapa mereka perlu belajar. Orang dewasa ingin dan berkecenderungan bertindak sesuai dengan keinginan sendiri apabila mereka semakin matang, walaupun ada saatnya mereka bergantung pada orang lain.
- Orang dewasa perlu belajar melalui pengalaman. Pengalaman orang dewasa adalah sumber pembelajaran yang penting. Pembelajaran mereka lebih berkesan melalui teknik-teknik berasaskan pengalaman seperti perbincangan dan penyelesaian masalah.
- Orang dewasa belajar berdasarkan pemusatan masalah. Orang dewasa sadar akan kebutuhan pembelajaran secara khusus melalui masalah-masalah kehidupan yang sebenarnya. Oleh karena itu, program-program pendidikan orang dewasa sepatutnya dirancang sesuai kebutuhan hidupnya dan disusun dengan melibatkan mereka.
- Orang dewasa belajar dengan lebih berkesan apabila topik itu bernilai. Orang dewasa belajar bersungguh-sungguh bagi menguasai suatu pengetahuan ataupun keterampilan bagi kebutuhan hidup. Oleh karena itu, pembelajaran orang dewasa berpusat pada target pencapaian. Kesungguhan orang dewasa menguasai suatu keterampilan ataupun pengetahuan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Model Andragogi dibentuk berdasarkan andaian-andaian di atas.
- Kebutuhan untuk memenuhi rasa ingin tahu. Orang dewasa perlu tahu mengapa mereka perlu belajar, Tough (1979) mendapati apabila orang dewasa berkemampuan untuk belajar dan memperoleh manfaat daripada pembelajarannya dan menyadari keburukan apabila tidak mempelajarinya. Peranan fasilitator di sini adalah untuk menyadarkan peserta didik tentang kebutuhan untuk memenuhi rasa ingin tahu, “need to know”.
- Kebutuhan untuk menyempurnakan dirinya. Orang dewasa mempunyai kemampuan dalam menilai diri sendiri, menentukan keputusan dan menentukan arah hidup mereka sendiri, orang dewasa juga mampu membangunkan kondisi psikologi mereka untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan dari orang lain.
- Peranan pengalaman. Orang dewasa memiliki pengalaman yang berbeda-beda, sesuai dengan latar belakang, cara pembelajaran, kebutuhan, pencapaian dan minat. Kaidah pembelajaran yang sering digunakan adalah perbincangan kumpulan, penyelesaian masalah dan bertukar pengalaman.
- Kesediaan belajar. Orang dewasa bersedia untuk belajar pada perkara yang perlu diketahui dan dipelajari oleh mereka dan mengaitkan apa yang dipelajari dengan realitas kehidupan. Kesediaan belajar ini penting bagi diri sendiri.
- Orientasi pembelajaran. Orang dewasa belajar berdasarkan orientasi kehidupan, berbeda dengan anak-anak yang tertumpu pada pelajaran atau berpusatkan subjek. Setiap perkara yang dipelajari adalah berkaitan dengan hidup mereka.
- Peranan motivasi. Orang dewasa mendapat motivasi dari dorongan luar (seperti kenaikan pangkat, gaji tinggi), tetapi faktor pendorong dari dalam lebih berpengaruh (seperti kualitas kehidupan, penghargaan).
Sedangkan beberapa perilaku yang dapat menghambat proses belajar orang
dewasa antara lain sebagai berikut:
- Harapan seseorang untuk mendapatkan hal-hal baru, namun yang didapatkan ternyata tidak sesuai dengan harapan sehingga yang bersangkutan menjadi tidak respons atau tidak tertarik lagi terhadap apa yang diberikan dalam proses belajar yang sedang berlangsung.
- Teori yang muluk-muluk sehingga meragukan kemungkinan penerapannya dalam praktik.
- Harapan mendapatkan petunjuk baru, namun harus mencari pemecahan.
- Pesan bersifat umum, tidak spesifik, sehingga tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapai peserta.
- Sulit menerima perubahan (Setiana, 2005).
Berdasarkan ringkasan prinsip-prinsip yang diberikan oleh beberapa tokoh
di atas, dapat disimpulkan bahwa prinsip pembelajaran orang dewasa adalah:
- Pembelajaran orang dewasa sangat berbeda dengan pembelajaran anak-anak. Kaidah pembelajaran yang sering digunakan dalam pembelajaran orang dewasa adalah perbincangan kumpulan, penyelesaian masalah dan bertukar pengalaman.
- Orang dewasa belajar dengan lebih baik apabila mereka terlibat secara aktif dalam proses merancang, menilai dan melaksanakan proses pembelajaran yang mereka ikuti.
- Orang dewasa belajar dengan lebih berkesan apabila topik itu bernilai, serta mampu membantu permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan dan pekerjaan mereka sehari-hari.
- Orang dewasa belajar dengan baik apabila mereka mempunyai motivasi untuk berubah, self-discovered atau mempunyai keterampilan dan strategi spesifik
- Salah satu kendala dalam pembelajaran orang dewasa adalah bahwasanyya orag dewasa pada umumnya telah memiliki pengetahuan dan sikap sehingga sulit menerima perubahan.
F. Pengertian Pembelajaran
Menurut Corey, pembelajaran merupakan suatu tahapan di mana
seseorang akan menghasilkan respons dan tingkah laku terhadap situasi tertentu
berdasarkan lingkungan yang telah dibentuk.[10]
Sehingga dalam pandangan ini, dapat dikatakan
bahwa pembelajaran merupakan pengkondisian lingkungan yang bertujuan untuk
menciptakan perilaku yang diharapkan.
Dimyati dan
Mudjiono menyatakan bahwa pembelajaran adalah kegiatan pendidik secara
terencana dengan menggunakan pola instruksional, dalam mendorong siswa agar
belajar secara aktif, yang menitik-beratkan pada
pelayanan berupa sumber belajar.[11]
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pencapaian hasil belajar siswa bergantung
pada program kegiatan yang telah dirancang oleh pendidik dalam proses belajar
mengajar.
Berdasarkan
UUSPN No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pembelajaran merupakan proses
komunikasi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar terhadap suatu
lingkungan belajar mengajar.[12]
Dengan demikian, pembelajaran
dapat dikatakan sebagai proses belajar yang dirancang oleh guru untuk membangun
kreativitas dalam berpikir; yang bertujuan
untuk mendorong kemampuan berpikir siswa dan dapat meningkatkan kompetensi
siswa dalam membentuk pengetahuan yang baru sebagai usaha untuk meningkatkan
penguasaan yang tepat terhadap bahan pelajaran.
Menurut konteks
ini, peran guru bukan semata-mata memberikan informasi, melainkan juga memberi pengarahan dan fasilitas belajar (directing and facilitating the learning)
agar proses belajar dapat berjalan secara optimal dan efektif. Berdasarkan
pernyataan tersebut, pembelajaran
mengandung arti bahwa setiap kegiatan yang dirancang untuk menunjang seseorang
dalam mempelajari, memahami dan menguasai suatu kemampuan dan hal yang baru.
G. PENILAIAN TENTANG PEMBELAJARAN
Penilaian
merupakan sebuah upaya formal utnuk menentukan status siswa dalam kaitannya
dengan variabel-variabel pendidikan yang menjadi fokus penelitian (Popham,
2008). Bagian pembahasan ini mencakup cara-cara menilai produk-produk atau
hasil-hasil pembelajaran. Metode-metode ini meliputi observasi langsung,
respons-respons tertulis, respons-respons lisan, penilaian oleh pihak lain, dan
laporan-laporan diri.
1.
Observasi Langsung
Observasi
langsung merupakan contoh-contoh perilaku siswa yang kita amati untuk menilai
apakah pembelajaran telah terjadi. Para guru sering menggunakan observasi
langsung. Observasi langsung merupakan indeks-indeks pembelajaran yang valid
jika jujur dan terbuka dan jika tidak banyak penyimpulan dari pengamatnya.
Metode ini akan memberikan hasil terbaik jika perilaku-perilakunya dapat
dikenali karakteristiknya dan kemudian para siswa partisipannya dapat diamati
untuk memastikan apakah perilaku-perilaku mereka sesuai dengan standar.
Masalah
yang dijumpai pada observasi langsung adalah metode ini hanya fokus pada
hal-hal yang dapat diamati, sehingga proses-proses kognitif dan afektif yang
mendasari tindakan menjadi terlewatkan. Permasalahan kedua dalam penggunaan
metode ini adalah, meskipun secara langsung mengamati perilaku yang
mengindikasikan bahwa pembelajaran telah berlangsung, tidak ditemukannya
perilaku yang tepat saat pengamatan bukan berarti bahwa pembelajaran telah
terjadi.
2.
Respons Tertulis
Beberapa kemudahan dalam penggunaan dan
kapasitas untuk mencakup berbagai macam materi membuat metode respons tertulis
menjadi indicator yang lebih disukai dalam penelitian pembelajaran. Kita
berpikir bahwa respons-respons tertulis mencerminkan pembelajaran, tetapi
banyak faktor yang dapat memengaruhi kinerja perilaku bahkan ketika siswa telah
belajar. Untuk menggunakan respons tertulis, kita harus berpandangan bahwa
siswa akan berusaha semaksimal kemampuan mereka dan bahwa tidak ada
faktor-faktor di luar fokus penelitian yang terlibat yang membuat hasil kerja
tertulis mereka tidak mewakili hal-hal yang telah mereka pelajari.
3.
Respons Lisan
Respons
lisan adalah bagian integral dari kultur sekolah. Guru membutuhkan siswa untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menilai pembelajaran berdasarkan apa yang
mereka katakan. Seperti halnya respons tertulis, kita berasumsi bahwa respons
lisan merupakan cerminan yang valid dari hal-hal yang diketahui siswa, yang
bisa jadi tidak selalu benar.
4.
Penilaian oleh Pihak Lain
Cara lain
untuk menilai pembelajaran adalah meminta orang-orang lain menilai siswa
berkenaan dengan kuantitas dan kualitas belajar mereka. Keuntungan menggunakan
penilitian oleh pihak lain adalah pengamat dapat menjadi lebih objektif dalam
menilai para siswa dibanding jika siswa yang membuat penilaian tentang diri
mereka sendiri. Metode ini juga dapat dipakai menilai proses-proses
pembelajaran yang mendasari tindakan dan dengan demikian data-data yang tidak
dapat diperoleh melalui pengamatan langsung bisa didapatkan.
5.
Laporan diri
Laporan
diri adalah penilaian-penilaian dan pernyataan-pernyataan tentang diri sendiri.
Laporan-diri dapat berupa: kuisoner, wawancara, stimulasi terhadap ingatan,
think aloud, dan dialog. Kuisioner berisi item-item atau pertanyaan-pertanyaan
yang diberikan kepada para responden untuk mengetahui pikiran-pikiran dan
tindakan-tindakan mereka. Responden dapat mencatat jenis-jenis aktivitas yang
biasa mereka lakukan, menilai tingkat kompetensi mereka menurut pandangan
mereka sendiri, dan menilai seberapa seringa tau berapa lama mereka telah
menjalani aktivitas mereka itu. Wawancara adalah tipe kuisioner di mana
seseorang pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau poin-poin untuk
dibahas dan responden menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara lisan.
Biasanya wawancara dilakukan per individu meskipun cara ini dapat juga
diterapkan untuk kelompok. Dalam prosedur stimulasi ingatan, responden diberi
sebuah tugas lalu mengingat kembali hal-hal yang mereka pikirkan pada
titik-titik waktu tertentu selama mereka mengerjakan tugas tersebut. Di sini
pewawancara akan menanyai mereka tentang hal itu. Think-aloud adalah prosedur
di mana siswa menyatakan atau melisankan pikiran-pikiran, tindakan-tindakan,
dan perasaan-perasaan mereka sementara mereka sedang mengerjakan tugas.
Verbalisasi dapat direkam oleh pengamat dan setelahnya dinilai untuk menentukan
tingkat pemahaman respoden. Metode think-aloud mensyaratkan responden untuk
memberikan ekspresi verbal. Tipe laporan-diri lainnya adalah dialog; yaitu
percakapan antara dua orang atau lebih sementara mereka sedang menjalankan
sebuah tugas pembelajaran. Seperti think aloud, dialog dapat direkam dan
pernyataan-pernyataan yang terekam, yang mengindikasikan pembelajaran dan
faktor-faktor yang tampaknya memengaruhi pembelajaran dalam setting di mana pembelajaran
tersebut dijalankan, dapat dianalisis.
H. Pembelajaran Yang Efektif
Pada dasarnya,
efektifitas pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik ditinjau dari
pendidik maupun dari peserta didik. Pembelajaran yang efektif juga dipengaruhi
oleh perencanaan guru. Menurut Burden dan Byrd, perencanaan
pembelajaran berkaitan dengan tindakan yang diambil oleh pendidik dalam
mengelola, menerapkan, dan mengevaluasi hasil pembelajaran.[13] Perencanaan
pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting dalam belajar mengajar,
karena perencanaan pembelajaran akan menentukan hasil belajar pada siswa. Hal
tersebut dapat kita pahami bahwa perencanaan yang baik akan membawa hasil yang
baik.
Rosanshine
menganalisis 6 hal tentang guru yang efektif sebagai berikut.[14] (1) melakukan review harian, (2) melakukan praktik terbimbing, (3)
menyiapkan materi baru, (4) menyediakan balikan dan koreksi, (5) melaksanakan
praktik mandiri, (6) melakukan review mingguan dan
bulanan. Dengan analisis yang dikemukakan oleh Rosanshine di atas, pendidik akan mudah dalam mengelola pembelajaran di kelas.
Pembelajaran
yang efektif juga terdapat pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
pembelajar. Pada saat ini, telah ada perubahan
perspektif terhadap pembelajaran yaitu
pembelajaran bukan lagi berpusat pada pendidik, akan tetapi berpusat pada
peserta didik. Dalam hal ini telah diuraikan 3 pendekatan dalam pembelajaran
yang efektif yakni (1) independent
learning (belajar mandiri), (2) problem-based
learning (belajar berdasarkan masalah), dan (3) integrated learning (pembelajaran terpadu).[15]
Berdasarkan
beberapa perspektif di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang
efektif didasarkan pada perencanaan yang tepat, baik dari guru ataupun dari siswa.
5 PRINSIP PEMBELAJARAN EFEKTIF
Menyelenggarakan pembelajaran efektif
merupakan impian setiap guru dan sekolah. Pembelajaran efektif adalah kegiatan
pembelajaran yang berhasil mengantarkan peserta didik pada tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan. Secara managerial-administratif dan berlaku secara
kedinnasan, ukuran keberhasilan tersebut adalah pencapaian kriteria ketuntasan
minimal oleh setidaknyaa 85% siswa.
Mewujudkan pembelajaran efektif bukan hal mudah bagi kebanyakan guru, bahkan yang pernah mengajar berpuluh tahun sekalipun.
Mewujudkan pembelajaran efektif bukan hal mudah bagi kebanyakan guru, bahkan yang pernah mengajar berpuluh tahun sekalipun.
Di
antara sekian faktor penentu efektivitas pembelajaran, kemampuan pengajar
merupakan faktor paling dominan. Pada sebagian orang pembelajaran efektif
dipengaruhi oleh ketrampilan bawaan dalam mengajar.
1.
Pengendalian Kelas
Pembelajaran
efektif pertama-tama membutuhkan kemampuan pengajar untuk mengendalikan kelas,
yaitu mengkondisikan siswa agar dengan antusias bersedia mendengarkan,
memperhatikan dan mengikuti instruksi pengajar. Pengendalian kelas merupakan
kunci pertama keberhasilan pembelajaran. Kegagalan ataupun pengendalian kelas
yang kurang maksimal akan berakibat kegagalan atau minimal keberhasilan
pembelajaran kurang optimal. Intinya, pengendalian kelas merupakan upaya
membuat siswa secara mental siap untuk dibelajarkan.
2.
Membangkitkan minat eksplorasi.
Setelah siswa secara mental siap
belajar, tugas guru adalah meyakinkan siswa-siswinya betapa materi pembelajaran
yang tengah mereka pelajari penting dan mudah dipelajari, sehingga menggugah
minat mereka untuk mempelajarinya. Ibarat makan, setelah anak mandi, berganti
pakaian dan duduk di meja makan, sajian yang akan mereka santap memang
membangkitkan selera. Anak tahu makanan itu enak, bermanfaat dan tak sabar
untuk segera melahapnya.
3.
Penguasaan konsep dan prosedur mempelajarinya
Seenak apapun makanan, pasti ada cara
paling tepat untuk menikmatinya. Kesalahan cara menikmati tak jarang membuat
anak kehilangan selera, misalnya makan satu ayam tetapi dari sambalnya lebih
dulu. Itu sebabnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah memperkenalkan
hakekat makanan yang akan mereka santap, serta dari bagian mana atau dengan
cara seperti apa menikmatinya.
Tugas inti seorang guru secara profesional
adalah memperkenalkan konsep dasar dari materi pelajaran yang tengah dipelajari,
dimulai dari sisi termudah dan paling menarik. Guru yang benar-benar menguasai
materi pelajaran pasti menemukan banyak cara untuk membuat anak didiknya
memahami materi pelajaran, dan bila perlu membuat kiasan, terutama untuk materi
pelajaran yang bersifat abstrak,
4.
Latihan
Pemahaman dalam sekali proses akan
sangat mudah menguap oleh berbagai aktivitas lain siswa. Memberikan latihan
demi latihan baik berupa latihan di kelas, PR atau pemberian tugas-tugas
tertentu merupakan wahana untuk memperkuat penguasaan materi yang telah
dipelajari. Pemberian tugas dan latihan mutlak diberikan agar siswa berlatih
secara terstruktur, sekalipun secara mandiri mereka mungkin saja
mempelajarinya. Hal yang harus diperhatikan dalam pemberian latihan meliputi ketercakupan
materi pelajaran. Itu sebabnya kisi-kisi materi pelajaran harus disusun sejelas
mungkin, sehingga dalam pemberian latihan dan penugasa benar-benar meluas dan
mendalam.
5.
Kendali Keberhasilan
Tugas guru tidak cukup hanya
menyampaikan materi pelajaran, tetapi lebih dari itu guru harus memastikan
seluruh siswa menguasainya. Penjajagan terhadap penguasaan materi pelajaran
oleh siswa harus dilakukan baik selama proses pembelajaran, latihan maupun
penugasan. Selama kegiatan pembelajaran guru perlu mulai menjajagi penguasaan
materi pelajaran semisal melalui kuis, snap shot, atau pertanyaan acak
lainnya. Hal yang harus diperhatikan saat memberikan kuis atau pertanyaan
penjajagan adalah jawaban siswa yang selama ini dikenal paling lemah daya tangkapnya.
Meminta siswa yang dikenal paling lemah dan sedang daya tangkapnya menjadi
indikator awal keberhasilan pembelajaran, sebab secara otomatis dapat
diperkirakan penguasaan materi oleh siswa yang daya tangkapnya kuat.
I.
Pengertian
Presentasi
Presentasi
merupakan metode pembelajaran dengan cara
penyampaian melalui penjelasan informasi oleh penyampai pesan (dosen, guru, instruktur atau mahasiswa
yang ditugaskan untuk memaparkan sesuatu baik ide, gagasan, ataupun
penemuan). Presentasi merupakan proses komunikasi yang terdiri atas penyampaian
pesan (presenter). Pesan
ini sendiri yakni berbagai informasi yang ingin disampaikan dan
(audiens) atau penerima
pesan yakni orang yang menerima penjelasan.
Sebagaimana
halnya dalam sebuah proses komunikasi, adakalanya pesan yang disampaikan sulit
ditangkap atau dipahami karena munculnya berbagai
hambatan (noise), baik gangguan
yang datang dari penyampaian pesan (presenter)
seperti guru, dosen atau instruktur, atau gangguan yang muncul dari audience (siswa,
mahasiswa, dan peserta didik ) itu sendiri sebagai penerima pesan.
Dalam
proses pembelajaran, baik di lembaga
pendidikan formal atau di lembaga pendidikan non formal termasuk
pelatihan-pelatihan, media presentasi merupakan media yang sering dimanfaatkan.
Hal ini disebabkan karena proses pembelajaran atau pelatihan tidak terlepas
dari proses penyajian materi. Oleh karenanya, guru, dosen atau instruktur perlu memahami secara praktis pemanfaatan
media ini.[16]
J. MEMPERSIAPKAN PRESENTASI
Keberhasilan dalam presentasi sangat
dipengaruhi oleh materi presentasi Anda. Karena presentasi yang efektif,
menarik dan hebat selalu dilandasi oleh materi yang kuat dan mantap. Untuk itu
sebagai presenter Anda harus dapat membuat materi presentasi yang baik dan
relevan sesuai kebutuhan audiens.Namun masalahnya membuat materi presentasi
yang baik dalam presentasi bukan hal yang mudah. Selain materi harus memiliki
struktur yang baik, Anda juga harus mampu memilih dan memutuskan ide-ide utama
serta mengembangkan ide utama menjadi materi yang kuat dan mantap untuk Anda
presentasikan.
Karena alasan itulah dalam tulisan
ini saya akan sharing kepada Anda tentang teknik-teknik yang tepat, yang bisa
Anda gunakan untuk membuat materi presentasi yang baik. Berikut adalah teknik
atau langkah-langkah yang bisa Anda lakukan.
1. Menggali
Ide Utama
Ada tiga teknik yang bisa Anda
pertimbangkan untuk menggeli ide utama. Teknik-teknik tersebut antara lain
adalah teknik brainstorming, mind mapping dan logical structure.
Brainstorming
Brainstorming adalah teknik menggali
ide dengan cara menuliskan ide-ide yang ada di dalam pikiran secara spontan
dalam sebuah media, bisa kertas flipchart besar, post it maupun papan tulis,
tanpa ada proses penilaian.
Brainstorming bisa dilakukan dengan
dua cara yaitu brainstorming individual dan brainstorming kelompok.
Brainstorming Individual
Brainstorming individual dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.
Umumnya ini dilakukan untuk menghasilkan ide original yang keluar dari pikiran
kita, tanpa pengaruh ide orang lain. Dengan brainstorming individual kita tidak
perlu khawatir pada penilaian orang lain dan kita bisa lebih leluasa dalam
menggali ide. Jika kita memiliki wawasan yang luas, brainstorming individual
memungkinkan kita menggali banyak ide tanpa khawatir akan kualitas ide yang
kita temukan. Namun brainstorming individual bisa sangat lemah apabila kita
tidak memiliki wawasan yang cukup.
Brainstorming Kelompok
Brainstorming kelompok dilakukan oleh dua orang atau lebih secara
bersama-sama atau berkelompok. Ketika anggota kelompok bisa mematuhi aturan
dalam brainstorming dengan baik, maka brainstorming kelompok bisa menjadi
sangat efektif untuk menggali ide. Karena melibatkan banyak orang sehingga
informasi yang di dapat akan lebih banyak. Keuntungan lain dari brainstorming
kelompok adalah membantu setiap orang yang terlibat merasa telah memberi
kontribusi, dan itu mengingatkan kita bahwa orang lain memiliki ide kreatif
yang bisa ditawarkan.
Brainstorming kelompok juga sangat menyenangkan.
Bisa menjadi salah satu sarana untuk membangun tim. Namun perlu dipahami
brainstorming kelompok juga dapat mengakibatkan kerugian individu. Misalnya
gagasan yang seharusnya bagus tidak digunakan. Bahkan ketika anggota kelompok
tidak bisa mematuhi aturan brainstorming, kegiatan ini akan sulit menghasilkan
ide yang berkualitas. Dari dua jenis brainstorming kita bebas untuk memilih.
Kita bisa menggunakan motode brainstorming individual atau brainstorming
kelompok. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya dalam melakukan brainstorming
kita bisa menggunakan kertas flipchart besar, post it atau papan tulis. Namun
dalam kesempatan ini saya akan menunjukkan kepada Anda bagaimana melakukan
brainstorming dengan kertas post it.
Cara melakukannya sederhana. Sediakan post it dan alat tulis. Kemudian
cari tempat yang nyaman supaya dapat berkonsentrasi penuh. Jika sudah siap
silakan pikirkan topik yang hendak kita bahas, gali semua ide dengan cepat dan
tuliskan apa saja yang terlintas. Satu ide untuk satu post it. Ingat, tidak
proses penilaian. Setelah semua ide sudah kita tulis, langkah selanjutnya
silakan tempel post it pada dinding ruangan Anda. Atau jika Anda punya papan
tulis bisa menggunakan papan tulis. Setelah semua semua tertempel selanjutnya
pilih ide, rapikan dan kelompokkan gagasan-gagasan yang sejenis, satu tema dan
berhubungan erat satu sama lain.
Mind Map
atau Peta Pikiran
Mind map atau peta pikiran adalah
alat otak yang sangat luar biasa. Tony Buzan menjelaskan mind mapping adalah
cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi
ke luar otak. Mind map adalah cara mencatat kreatif, efektif dan secara harfiah
akan memetakan pikiran-pikiran kita. Membuat mind mapping untuk menyiapkan
bahan presentasi tidak sulit. Kita hanya perlu menyiapkan kertas kosong dan
beberapa alat tulis warna. Setelah kertas dan alat tulis sudah siap kita bisa
mulai membuatnya.
Pertama yang harus kita lakukan
adalah menuliskan ide utama, atau topik presentasi ditengah kertas. Selanjutnya
buat anak cabang dari ide utama menjadi tiga bagian yaitu pembuka, isi dan
penutup. Setelah itu dari anak cabang pertama (pembuka) silahkan buat kembali
anak cabang yang meliputi ide-ide utama yang akan kita tampilkan di bagian
pembuka. Lakukan cara ini untuk anak cabang isi dan penutup.
Menggunakan mind map selain baik untuk memetakan ide-ide utama presentasi, juga dapat membantu kita mengingat urutan dan alur presentasi dengan baik. Ini dikarenakan mind map hanya berisi kata kunci, setiap ide ditata dan dihubungkan dengan jelas dan terakhir karena mind map menggunakan warna yang merangsang imajinasi.
Menggunakan mind map selain baik untuk memetakan ide-ide utama presentasi, juga dapat membantu kita mengingat urutan dan alur presentasi dengan baik. Ini dikarenakan mind map hanya berisi kata kunci, setiap ide ditata dan dihubungkan dengan jelas dan terakhir karena mind map menggunakan warna yang merangsang imajinasi.
Logical
Structure
Rhenald Kasali dalam bukunya Sukses Melakukan Presentasi menjelaskan
salah satu cara mengembangkan topik adalah dengan mengembangkan logical
structure. Logical structure pada dasarnya adalah sebuah alat bantu untuk
menguraikan benang-benang kusut ke dalam sebuah diagram yang kita sebuah
logical tree. Bentuknya semacam outline. Dengan demikian ia adalah sebuah
rencana (bukan a final product), sehingga sifatnya sangat terbuka untuk
penyesuaian-penyesuaian atau perubahan-perubahan. Alat ini bermanfaat untuk
mengarahkan jalan berpikir audiens sehingga dari awal mereka sudah tahu ke mana
arah presentasi.
Selain itu struktur ini juga berguna bagi
presenter yang bekerja dalam tim, atau bagi mereka yang belum terbiasa
mengembangkan. Dengan memiliki suatu logical tree, para anggota tim tinggal
memilih sub topik yang menjadi tanggung jawabnya, dan ke mana arah presentasi
tersebut. Struktur ini akan mendorong presenter membuat suatu poin, lalu
mencari penjelasannya (dukungan-dukungannya) sampai tuntas. Intinya terdiri
dari heading, sub heading dan supporting detail.Itulah tiga teknik untuk
mengembangkan topik menjadi materi presentasi yang baik. Anda tinggal memilih
cara mana yang menurut Anda paling nyaman dan mudah Anda lakukan.
2.
Mengevaluasi Ide
Setelah Anda berhasil menggali ide utama
langkah selanjutnya silakan Anda evaluasi ide-ide Anda. Pilih mana saja dari
ide-ide tersebut yang akan Anda gunakan dan mana yang tidak Anda gunakan. Anda
harus jeli dan berpikir keras di sini untuk bisa mendapatkan ide-ide utama
terbaik yang akan Anda gunakan.
3.
Menstrukturkan Ide
Setelah evaluasi selesai Anda lakukan. Anda sudah menemukan ide-ide
utama yang akan Anda gunakan. Selanjutnya silakan strukturkan ide-ide Anda, urutkan ide-ide tersebut supaya
runtut.
4.
Mengembangkan Ide
Setelah semua ide utama terkumpul, Anda sudah menstrukturkan ide-ide
tersebut, langkah selanjutnya adalah melengkapi ide-ide utama tersebut menjadi
materi presentasi yang utuh. Anda perlu melengkapi ide-ide utama dengan
penjelasan yang akurat. Anda perlu menambahkan informasi pendukung yang
relevan, kutipan, data atau fakta untuk memperkuat ide-ide utama Anda Kaitannya
dengan hal ini ada dua tahap yang perlu Anda lakukan. Pertama, menambahkan
penjelasan untuk tiap ide-ide utama yang murni dari pikiran Anda. Ini bertujuan
untuk mendapatkan gagasan-gagasan asli dan untuk mengukur pengetahuan Anda
terhadap topik yang Anda bawakan.
Kedua, menambahkan informasi, kutipan,
data atau fakta dari sumber-sumber terpercaya. Setelah tahap pertama selesai,
selanjutnya silakan baca buku, internat, majalah, jurnal atau yang lain untuk
mencari informasi, kutipan, data atau fakta untuk memperkuat gagasan yang sudah
Anda tuliskan pada tahap sebelumnya. Catatan: supaya materi yang Anda siapkan
efektif pastikan bahwa penjelasan yang Anda masukkan tidak terlampau banyak
(sesuaikan dengan waktu). Mengapa harus tepat waktu? karena materi yang
berkualitas harus bisa menjelaskan gagasan secara lengkap tanpa menjadi
kepanjangan atau terlalu singkat. Artinya materi Anda harus cukup disampaikan
dengan batas waktu yang Anda miliki.
Misalnya Anda melakukan presentasi
dengan durasi waktu 60 menit, maka Anda harus berbicara minimal 55 menit dan
maksimal 65 menit. Jangan terlalu kurang atau berlebihan. Jika terlalu kurang
audiens akan menganggap Anda tidak cukup bahan untuk disampaikan. Jika terlalu
berlebihan Anda mencuri waktu berharga audiens. Ini akan memunculkan keresahan
dalam diri audiens. Audiens tidak akan fokus dengan apa yang Anda sampaikan,
dan Anda akan kehilangan kesempatan untuk menutup presentasi yang berkesan. Kemudian
jangan masukkan informasi yang tidak Anda pahami. Jangan masukkan informasi,
kutipan data atau fakta yang tidak relevan. Selain itu pastikan informasi, data
atau fakta itu akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.
Demikianlah empat teknik sederhana
bagaimana mempersiapkan materi presentasi. Jadi sekali lagi saya inginkan, jika
Anda ingin membuat materi presentasi mulailah dengan menggali ide, kemudian
mengevaluasi ide, menstrukturkan ide, baru kemudian mengembangkan ide menjadi
materi yang kuat dan mantap. Jika Anda merasa ulasan ini menarik dan
bermanfaat, silakan Anda bagikan ulasan ini ke teman-teman Anda. Atau misalnya
Anda punya tanggapan mengenai ulasan ini silakan bagi melalui kolom komentar di
bawah.
K. Teknik
Presentasi
Teknik
Presentasi adalah salah satu elemen dalam Desain Komunikasi Visual khususnya di
bidang multimedia. Pada awalnya ketika jurusan Desain Komunikasi Visual ini
masih baru, Teknik Presentasi ditafsirkan dengan beberapa macam penafsiran.
Misalnya pada penerapan di bidang Desain Produk, teknik Presentasi mungkin
ditafsirkan cara menampilkan barang-barang produk yang ingin dipresentasikan
(dipamerkan) ke hadapan audience. Presentasi untuk bidang karya ilmiah,
misalnya disampaikan dengan cara mendemonstrasikan hasil karya tersebut Sehingga dipahami oleh audience. Akan tetapi,
akhirnya berhasil disepakati bahwa bahasan tentang teknik (penyajian)
presentasi dan media interaktif adalah cara seseorang menyajikan penjelasan terhadap
data, uraian proses, maupun pembelajaran, baik disajikan di muka audience dengan
bantuan alat peraga berupa Slide show, program
aplikasi yang menyajikan informasi interaktif yang dapat diakses secara
personal, maupun presentasi dalam bentuk cetakan yang dibagikan kepada semua penerima
informasi.
Buat
suasana yang santai dan rileks untuk pendengarmu, misalnya dengan guyonan yang
relevan, atau ambil perhatian mereka dengan bahasa tubuh atau peristiwa yang
dramatik. Gunakan kata ganti "personal" (misalnya kita) dalam
memberikan presentasi. Lakukan kontak mata dengan pendengar. Presentasikan
topik dengan menggunakan suara yang ramah/akrab dan terdengan jelas bukan
berarti keras, tapi beri variasi sebagai penekanan pada beberapa kata. Gunakan
kata/kalimat transisi yang memberitahukan pendengar bahwa kamu akan menuju ke
pemikiran yang lain.
Berilah
pertanyaan-pertanyaan kepada pendengar untuk melibatkan mereka. Ambil
kesimpulan sesuai dengan pemikiran/argumentasi yang sudah dipresentasikan.
Dapat ditambahkan pada beberapa presentasi bisnis di akhiri juga dengan
pembagian hadiah dengan berbagai metode, seperti pemberian pertanyaan, undian
kartu nama, busana khusus yang digunakan audian dan sebagainya. Sisakan waktu
untuk pertanyaan, dan mintalah masukkan pada: isi presentasi (ide-ide
berhubungan yang mungkin belum disentuh) kesimpulan dan cara presentasi.
L. Pertimbangan Pelaksanaan Presentasi
Dalam proses pembelajaran, tidak selamanya guru, dosen atau instruktur
harus melakukan presentasi. Terdapat sejumlah pertimbangan yang harus
diperhatikan kapan sebaiknya presentasi dilakukan. Berikut ini pertimbangan-pertimbangan
itu dijelaskan secara singkat.
1.
Manakala
materi pelajaran tidak bersifat baru, sehingga banyak
tersedia di berbagai sumber belajar, sebaiknya
presentasi dihindari.
2.
Apabila
yang ingin disampaikan ialah materi pelajaran yang bersifat konsep, prinsip
yang memerlukan pembuktian, atau berupa prosedur dan cara kerja dari sesuatu, lebih baik presentasi dihindari.
3.
Presentasi
dapat dilakukan manakala akan menyampaikan bahan-bahan baru, serta kaitannya
dengan yang akan dan harus dipelajari siswa (overview).
4.
Presentasi
dilakukan manakala menginginkan agar audiens atau siswa memiliki gaya model
intelektual tertentu, misalnya agar siswa dapat mengingat bahan pelajaran
sehingga ia akan dapat mengungkapkanya kembali manakala diperlukan.
5.
Jika
lingkungan tidak mendukung untuk menggunakan strategi yang berpusat pada siswa, misalnya tidak adanya sarana
dan prasarana yang dibutuhkan.
6.
Presentasi
dilakukan manakala jumlah audiens relatif banyak, sehingga tidak mungkin
digunakan metode lain.
7.
Presentasi
dilakukan manakala waktu yang tersedia terbatas, sedangkan materi pelajaran
cukup luas.
Di bawah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai
presentasi itu sendiri.
1.
Jenis-jenis Media Presentasi
Ada beberapa jenis media presentasi yang
sering digunakan. Di bawah ini disajikan jenis-jenis media presentasi
serta pemanfaatannya dalam
komunikasi pembelajaran.[17]
a.
Papan
Tulis
Papan tulis merupakan alat
bantu yang dapat digunakan sebagai media untuk memperjelas pesan yang hendak
disampaikan agar dapat lebih dimengerti oleh penerima pesan. Dalam pendidikan
formal, papan tulis merupakan alat bantu yang sejak dulu
sampai sekarang banyak digunakan oleh guru
dan dosen.
b.
Overhead
projector
( OHP)
Sesuai dengan namanya, overhead projector (OHP) dapat diartikan
sebagai alat yang dapat memproyeksikan gambar melalui atau di atas
kepala kelayar atau ke tempat proyeksi yang bersifat discope (memproyeksikan secara tidak langsung).
c.
Komputer
Dewasa ini komputer merupakan alat bantu
yang banyak digunakan dalam proses pembelajaran. Mempresentasikan sesuatu
seperti ide atau gagasan baru dengan menggunakan komputer, dapat lebih menarik dibandingkan alat bantu yang
lain.
2.
Merancang
Bahan Presentasi
Merancang bahan presentasi merupakan langkah penting yang harus
dilakukan sebelum melakukan proses presentasi.
Ada empat langkah yang harus dilakukan dalam merancang bahan presentasi, yaitu:
a.
Merumuskan
tujuan khusus (specifying objectives).
b.
Mendesain
visual (designing visual).
c.
Memilih
bentuk tulisan (selecting lettering).
d.
Melakukan
evaluasi dan revisi (evaluation and
revision).
3. Pelaksanaan Presentasi
Ada tiga langkah sebelum melaksanakan presentasi, yakni persiapan,
pelaksanaan dan penutup.[18]
a.
Persiapan
Langkah persiapan adalah langkah sebelum
pelaksanaan presentasi. Keberhasilan dalam melaksanakan presentasi akan
ditentukan oleh langkah persiapan. Oleh karena itu,
langkah persiapan ini perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh.
b.
Penyajian/Pelaksanaan
Beberapa petunjuk praktis agar penyajian
atau presentasi menarik dan berhasil dengan baik diantaranya adalah:
a)
Pastikan
semua yang hadir (audiens) mengetahui
tujuan yang hendak dicapai.
b)
Usahakan
ruangan tetap terang sekalipun menggunakan alat presentasi yang diproyeksikan
seperti LCD atau OHP.
c)
Ketika
presentasi berlangsung, jaga kontak pandang dengan audiens, agar dapat mengontrol perilaku
audiens.
d)
Apabila
presentasi menggunakan OHP sebagai alat presentasi, mengontrol dan mengarahkan
perhatian audiens terhadap materi atau pesan yang dipresentasikan, maka sebaiknya OHP tidak
terus menerus dihidupkan.
e)
Setiap
selesai menyajikan satu pokok permasalahan, pastikan audiens memahaminya dengan benar.
f)
Selipkan
humor-humor yang ringan sesuai dengan latar belakang audiens, jangan paksakan menyelipkan humor yang tidak sesuai dengan
latar belakang audiens.
4. Penyajian
Langkah penyajian adalah langkah
penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Yang
harus dipikirkan oleh setiap guru dalam penyajian ini adalah bagaimana agar
materi pelajaran dapat dengan mudah ditanggap
dan dipahami oleh siswa. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini. Diantaranya adalah penggunaan
bahasa, intonasi suara, menjaga kontak mata dengan siswa, menggunakan humor
atau candaan agar kelas tetap hidup dan segar melalui penggunaan kalimat atau
bahasa yang lucu.[19]
5.
Standar dan Kriteria Penilaian Presentasi Makalah
a.
Apa
presentasi makalah itu?
Presentasi makalah (term-paper) adalah
menyajikan satu karangan ilmiah dengan sistematis kepada dosen atau mahasiswa
lainnya tentang suatu pokok bahasan tertentu sebagai bagian dari tugas mata
kuliah yang dimaksudkan, untuk mendukung
pencapaian hasil belajar atau kompetensi.
b.
Apa
arti pentingnya presentasi makalah?
Sebuah presentasi makalah (term-paper) bertujuan untuk
menunjukkan kemampuan sebuah performa hasil
belajar atau kompetensi yang kompleks. Sebab, tugas ini menuntut kemampuan
menyajikan pikiran pada level analisis, atau sintesis atau evaluasi.[20]
6.
Teknik Presentasi Dengan Menggunakan Audio-visual
Dengan audio-visual, seorang pembicara
dapat memberikan keterangan yang lebih luas,
rinci, serta mudah dicerna oleh para pendengarnya.
Presentasi juga menjadi lebih menarik dan hidup. Pendengar juga dapat ikut
menulis apabila ada yang dapat dipakai sebagai referensi. Presentasi audio-visual terdiri atas beberapa unsur pokok,
unsur-unsur pokok tersebut harus diperhatikan, baik sebelum maupun saat presentasi
berlangsung.
Unsur-unsur pokok tersebut adalah:
a.
Materi
presentasi.
b.
Tempat
presentasi.
c.
Alat-alat
audio, video atau audio-visual.
d.
Letak
audio-visual di dalam ruangan.
e.
Alat
peraga (slides, kaset video dan sebagainya).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan
Sifat Penelitian
Studi ini pada
dasarnya adalah sebuah studi kualitatif. Studi kualitatif yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kajian yang berusaha mengungkap fenomena secara holistik
dengan cara mendeskripsikannya melalui bahasa non-numerik dalam konteks dan
paradigma alamiah. Mengasumsikan bahwa kenyataan-kenyataannya empiris terjadi
dalam satu konteks sosio-kultural yang
saling terkait satu sama lain secara holistik. Paradigma alamiah ini pada
gilirannya melahirkan karakteristik metodologis yang khas, yang harus di perhatikan seperti design,
instrument, proses pengumpulan, cara memperlakukan, menganalisis dan cara menyajikan data dalam bentuk kata-kata
dan bahasa. [22]
B. Sumber Data
Studi ini menggunakan observasi langsung
yang memungkinkan bagi peneliti untuk mengumpulkan data
mengenai perilaku dan kejadian secara detail. Peneliti dalam observasi langsung tidak berusaha untuk memanipulasi kejadian yang
diamati yang dibagi ke dalam dua bagian yaitu data
primer dan data sekunder. Data primer dalam studi ini adalah data yang berasal
dari peneliti, data ini berupa angket yang diperoleh
dari mahasiswa PBI STAIN Metro. Data sekunder adalah menggunakan
dokumentasi sebagai arsip dan sebagai sumber data terdahulu; dalam hal ini,
data yang digunakan adalah dengan menggunakan data yang telah ada sebelumnya
dan data tersebut diperoleh dari gambar kegiatan mahasiswa ketika presentasi berlangsung. Banyak tipe
data yang dikumpulkan melalui teknik observasi langsung ini. Hasilnya lebih akurat dan memerlukan biaya yang
relatif lebih ekonomis dibandingkan dengan teknik wawancara atau pertanyaan
yang digunakan dalam metode survei. Data yang diperoleh melalui observasi
langsung kadang digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh melalui
wawancara atau kuesioner.
Menganalisis masalah, penulis akan
memanfaatkan data tertulis dalam studi ini, sumber data yang akan digunakan
dalam penelitian ini yang diperoleh dari tingkat keberhasilan mahasiswa
terhadap proses pembelajaran melalui metode presentasi di PBI STAIN Metro
sebagai objek dari penelitian ini.
C. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data
Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan
data pada studi ini dibagi menjadi dua cara yaitu: (1)
dokumentasi dan (2) kuesioner (angket). Dokumentasi mengacu kepada dokumen
pengumpulan data pribadi (seperti jurnal-jurnal dan buku-buku yang berhubungan
dengan studi ini). Selain itu, Peneliti mengumpulkan data dari persepsi
mahasiswa tentang tingkat keberhasilan mahasiswa
terhadap proses pembelajaran melalui metode presentasi di PBI Stain Metro untuk memperoleh data
yang valid.
Penentuan sampel penelitian dilakukan
dengan teknik random sampling dengan
jenis typical case sampling, yaitu
peneliti dengan sengaja melibatkan unit yang dipandang tipikal dengan fenomena
yang sedang dikaji. Dalam studi ini, peneliti memilih 30 kuesioner sebagai sampel yang
terdiri dari 19 mahasiswa dari semester 6 dan 11 mahasiswa dari semester 4.
Dalam penelitian ini, peneliti
memilih sampel penelitian terhadap mahasiswa PBI yang telah mengambil semua
mata kuliah yang diampukan kepada mahasiswa Stain Metro. Partisipan telah
memahami tiap komponen-komponen dalam pembelajaran sehingga hasil penilitian
menjadi valid.
Berdasarkan
studi ini, peneliti juga menggunakan dokumentasi dan kuesioner
dalam mengumpulkan data. Dokumentasi tersebut dalam bentuk visual. Selain itu, kuesioner dalam studi ini digunakan untuk mengetahui
tingkat keberhasilan mahasiswa terhadap proses pembelajaran melalui metode
presentasi di PBI STAIN Metro terhadap pelayanan yang diberikan oleh PBI STAIN
Metro dalam proses pembelajaran.
D. Teknik
Analisis Data
|
19
|
E. Pendekatan
Dalam penelitian
ini, peneliti menggunakan pendekatan studi kasus (case study). “Studi kasus dalam
rangka pelayanan bimbingan merupakan metode untuk mempelajari keadaan dan
perkembangan siswa secara lengkap dan mendalam, dengan tujuan memahami
individualitas siswa dengan baik dan membantunya dalam perkembangan
selanjutnya.”
Oleh karena itu,
peneliti menggunakan pendekatan studi kasus yang berkaitan dengan
masalah-masalah di PBI STAIN Jurai Siwo Metro khususnya yang berkaitan dengan tingkat
keberhasilan mahasiswa terhadap proses pembelajaran melalui presentasi di PBI
STAIN Jurai Siwo Metro. Data yang diperoleh ditampilkan secara jelas untuk
dijadikan data visual valid dalam bentuk gambaran masalah-masalah yang ada di
PBI STAIN Jurai Siwo Metro, terutama
mengenai proses pembelajaran yang ada.
BAB IV
PEMBAHASAN DAN
HASIL PENELITIAN
Pada
bab ini, peneliti menyajikan hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara
dan angket dari pedoman wawancara dan angket yang telah disusun sebelumnya
sebagai metode penelitian utama untuk mendeskripsikan dan membahas data yang
telah diperoleh saat penelitian. Hasil penelitian ini diperoleh dengan
teknik wawancara dan angket mendalam dengan narasumber sebagai bentuk pencarian
data dan observasi langsung di lapangan yang kemudian peneliti analisis.
A.
Kondisi Peserta Didik Saat Melakukan Kegiatan Pembelajaran Melalui Metode
Presentasi
Kegiatan pembelajaran pada umumnya di arahkan
pada ranah keefektifan belajar mengajar yang kondusif selama proses pelaksanaan
di dalamnya. Peserta didik dapat melaksanakan kegiatan presentasi sebagai
metode untuk memahami teori secara terstruktur dan sesuai rencana pembelajaran.
Proses kegiatan pembelajaran yang diharapkan mampu untuk di mengerti secara
runtut baik teori ataupun penalaran terhadap sumber belajarnya. Presentasi
sebagai metode pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sangat pribadi,
dan juga faktor yang terikat dengan jenis materinya. Materi ketrampilan dan
sikap dalam pelaksanaan presentasi tentu lebih bak di dekati memakai pola
kondisioning, sedang materi pengetahuan memakai belajar kognitif.
Dalam proses kerja nyata kegiatan pembelajaran
di STAIN saat ini sebagian besar belum dapat dikatakan berhasil. Dikarenakan,
metode presentasi yang di laksanakan secara tidak seimbang. Artinya, pemateri
kurang ada kesiapan untuk menjadi sumber belajar aktif atau pengkondisian yang
tidak maksimal. Sebagaimana, tujuan belajar adalah penetapan tujuan belajar
yang tepat dirinci dengan tujuan-tujuan terstruktur dapat di terima dan
tercapai keberhasilan usaha belajar. Apabila, sudah tercapai maka pembelajaran
melalui presentasi dapatdikatakan berhasil.
B.
Proses Pembelajaran Melalui Metode Presentasi di PBI
STAIN Jurai Siwo Metro
Pembelajaran merupakan proses komunikasi peserta didik dengan pendidik
dan sumber belajar terhadap suatu lingkungan belajar mengajar. Dengan demikian, pembelajaran dapat dikatakan sebagai proses belajar
yang dirancang oleh guru untuk membangun kreativitas dalam berpikir; yang bertujuan untuk mendorong kemampuan berpikir
siswa dan dapat meningkatkan kompetensi siswa dalam membentuk pengetahuan yang
baru sebagai usaha untuk meningkatkan penguasaan yang tepat terhadap bahan
pelajaran.
Menurut konteks ini, peran guru bukan
semata-mata memberikan informasi, melainkan juga memberi pengarahan dan fasilitas belajar (directing and facilitating the learning)
agar proses belajar dapat berjalan secara optimal dan efektif. Berdasarkan
pernyataan tersebut, pembelajaran
mengandung arti bahwa setiap kegiatan yang dirancang untuk menunjang seseorang
dalam mempelajari, memahami dan menguasai suatu kemampuan dan hal yang baru
agar proses pembelajaran menjadi lebih efektif.
Pembelajaran yang efektif juga terdapat
pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pembelajar. Pada saat ini, telah ada perubahan perspektif terhadap
pembelajaran yaitu pembelajaran bukan lagi berpusat pada pendidik,
akan tetapi berpusat pada peserta didik. Dalam hal ini telah diuraikan 3
pendekatan dalam pembelajaran yang efektif yakni (1) independent learning (belajar mandiri), (2) problem-based learning (belajar berdasarkan masalah), dan (3) integrated learning (pembelajaran
terpadu).[24]
Proses pembelajaran efektif bagi orang dewasa dapat dilakukan dengan
menggunakan metode presentasi yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Pembelajaran
tersebut dapat dilakukan dalam sistem pendidikan kampus terpadu yang mengarah
pada pembinaan kemandirian seutuhnya. Proses pendidikan terpadu ini sudah lama
dilaksanakan oleh lembaga pendidikan berbasis ilmu agama layaknya STAIN Jurai
Siwo Metro. Lebih dari itu, sistem pendidikan didalamnya banyak menggunakan
metode presentasi yang mampu melaksanakan pembelajaran yang berakar pada
keyakinan hidup dan kemandirian seseorang dalam mengungkapkan suatu gagasan
atau ide-ide baru.
Sesuai dengan wataknya, metode presentasi memiliki ciri khas pembelajaran dengan cara penyampaian melalui penjelasan
informasi oleh penyampai pesan (dosen, guru, instruktur atau mahasiswa yang ditugaskan
untuk memaparkan sesuatu baik ide, gagasan, ataupun penemuan). Presentasi
merupakan proses komunikasi yang terdiri atas penyampaian pesan (presenter).
Pesan ini sendiri yakni berbagai informasi yang ingin
disampaikan dan (audiens) atau penerima pesan yakni orang yang menerima
penjelasan.
Sebagaimana halnya dalam sebuah proses komunikasi, adakalanya pesan yang
disampaikan sulit ditangkap atau dipahami karena munculnya berbagai hambatan (noise), baik gangguan
yang datang dari penyampaian pesan (presenter)
seperti guru, dosen atau instruktur, atau gangguan yang muncul dari audience (siswa,
mahasiswa, dan peserta didik ) itu sendiri sebagai penerima pesan.
Dalam proses pembelajaran, baik di lembaga pendidikan formal atau di lembaga
pendidikan non-formal termasuk pelatihan-pelatihan, media presentasi merupakan
media yang sering dimanfaatkan. Hal ini disebabkan karena proses pembelajaran
atau pelatihan tidak terlepas dari proses penyajian materi. Oleh karenanya, guru, dosen atau instruktur perlu memahami secara praktis pemanfaatan
media ini.
Dengan memahami cara kerja dan pemanfaatan media tersebut, kita memahami
bahwa pembelajaran secara mandiri menjadi sangat penting. Dengan kemampuan kita
dalam belajar secara mandiri, kita akan mudah mengeluarkan gagasan seperti apa
yang kita inginkan. Sebaliknya, jika pikiran kita lepas kendali atau tidak
fokus, sehingga terfokus kepada handphone ataupun sibuk mengobrol dengan teman,
maka kita terus akan mendapatkan penderitaan-penderitaan yang disadari maupun
tidak disadari; seperti tidak mengerti materi apa yang sedang dan telah
dijelaskan oleh pemateri. Selanjutnya, semua pengalaman hidup yang berasal dari
lingkungan kerabat, sekolah, televisi, internet, buku, majalah dan sumber
lainnya menambah pengetahuan yang akan mengantarkan seseorang memiliki
kemampuan yang semakin besar untuk dapat menganalisis dan menalar objek luar.
Mulai dari sinilah peran pikiran sadar menjadi sangat dominan. Semakin banyak
informasi yang diterima dan semakin matang sistem kepercayaan dan pola pikir
yang terbentuk, maka semakin jelas tindakan, kebiasaan, dan karakter unik dari
masing-masing individu. Dengan kata lain, setiap individu akan memiliki kepercayaan,
citra diri dan kebiasaan menyampaikan pendapat yang unik. Jika sistem atau
teknik pembelajarannya benar dan selaras, karakternya baik, dan konsep
kehidupannya bagus, maka pembelajaran menggunakan suatu metode, terutama metode
presentasi akan berjalan lancar.
C.
Penggunaan Metode Presentasi Dalam Proses
Pembelajaran
Pada
dasarnya, efektifitas pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa
faktor, baik ditinjau dari pendidik maupun dari peserta didik. Pembelajaran
yang efektif juga dipengaruhi oleh perencanaan guru. Menurut Burden dan Byrd, perencanaan pembelajaran berkaitan dengan tindakan
yang diambil oleh pendidik dalam mengelola, menerapkan, dan mengevaluasi hasil
pembelajaran.[25]
Oleh karena itu, metode presentasi yang dianggap sebagai metode yang paling
efektif diterapkan dapat menjadi metode yang tepat dalam pendidikan di tingkat
atas.
Presentasi yang tadi dijelaskan dengan cara penyampaian melalui
penjelasan informasi oleh penyampai pesan (dosen,
guru, instruktur atau mahasiswa yang ditugaskan
untuk memaparkan sesuatu baik ide, gagasan, ataupun penemuan); berperan penting
dalam proses pembelajaran efektif bagi orang dewasa (layaknya mahasiswa/i).
Presentasi merupakan proses komunikasi yang terdiri atas penyampaian pesan (presenter).
Pesan ini sendiri yakni berbagai informasi yang ingin
disampaikan dan (audiens) atau penerima pesan yakni orang yang menerima
penjelasan.
Dalam proses pembelajaran, tidak selamanya guru, dosen atau instruktur
harus melakukan presentasi. Terdapat sejumlah pertimbangan yang harus
diperhatikan kapan sebaiknya presentasi tersebut dilakukan. Berikut ini
pertimbangan-pertimbangan itu dijelaskan secara singkat.
1.
Manakala
materi pelajaran tidak bersifat baru, sehingga banyak
tersedia di berbagai sumber belajar, sebaiknya
presentasi dihindari.
2.
Apabila
yang ingin disampaikan ialah materi pelajaran yang bersifat konsep, prinsip
yang memerlukan pembuktian, atau berupa prosedur dan cara kerja dari sesuatu, lebih baik presentasi dihindari.
3.
Presentasi
dapat dilakukan manakala akan menyampaikan bahan-bahan baru, serta kaitannya
dengan yang akan dan harus dipelajari siswa (overview).
4.
Presentasi
dilakukan manakala menginginkan agar audiens atau siswa memiliki gaya model
intelektual tertentu, misalnya agar siswa dapat mengingat bahan pelajaran
sehingga ia akan dapat mengungkapkanya kembali manakala diperlukan.
5.
Jika
lingkungan tidak mendukung untuk menggunakan strategi yang berpusat pada siswa, misalnya tidak adanya sarana
dan prasarana yang dibutuhkan.
6.
Presentasi
dilakukan manakala jumlah audiens relatif banyak, sehingga tidak mungkin
digunakan metode lain.
7.
Presentasi
dilakukan manakala waktu yang tersedia terbatas, sedangkan materi pelajaran
cukup luas.
D. Analisis
Penggunaan Metode Presentasi di PBI STAIN Jurai Siwo Metro
Penggunaan metode presentasi seharusnya berangkat dari
konsep dasar suatu pendidikan di tingkat menengah ke atas. Setiap individu
dilahirkan dengan akal yang baik yang dapat dipergunakan dalam menyampaikan
suatu ide atau gagasan.
Seorang ahli psikologi berkebangsaan
swiss, C. Jung membagi individu secara psikologis menjadi dua yaitu ekstrovert dan introvert. Seseorang yang
bersifat ekstrovert cenderung menyenangi cara belajar dengan melakukan
interaksi dengan lingkungannya, bicara dengan orang lain atau mencari
pengalaman. Adapun seorang introvert lebih menyenangi belajar dengan cara berpikir
sendiri tanpa ada gangguan dari lingkungannya (Craton, 1996).
Pada dasarnya, setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk menjadi salah satu dari kedua sifat tersebut,
meskipun tidak ada yang mutlak. Dalam arti, seorang introvert bukan sama sekali
tidak mempunyai ciri-ciri ekstrovert atau sebaliknya.
Berkaitan dengan hal
tersebut di atas, mahasiswa sebagai orang yang sudah dianggap
dewasa akan lebih baik jika diperlakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan
karakteristik mereka; khususnya karakteristik
psikologisnya. Hal itu terjadi karena karakteristik psikologis akan
mempengaruhi seseorang dalam bekerja sama dengan orang lain (dalam suatu
kelompok), seperti cara memecahkan masalah, membuat keputusan, membuat rencana
belajar, dan juga cara belajar secara umum. Kesemuanya itu akan mempengaruhi
seseorang pada gaya belajarnya (learning
style). Yang dimaksud gaya belajar adalah kecenderungan seseorang untuk
menggunakan cara tertentu dalam belajar sehingga akan dapat
belajar dengan baik.
Enam dari 10 mahasiswa/i di PBI STAIN Jurai Siwo Metro mengatakan bahwa
metode presentasi tidak cocok digunakan di PBI STAIN Jurai Siwo Metro karena
terdapat beberapa mata pelajaran yang diharuskan hanya cocok menggunakan metode
teaching center dalam proses pembelajarannya.
Mereka juga sangat menyayangkan adanya beberapa mata pelajaran basic skill yang dipresentasikan;
sedangkan baiknya hanya fokus terhadap penjelasan satu orang saja. Seperti
pelajaran grammar, yang hampir sama halnya dengan matematika, tentu saja tidak
dapat dipresentasikan karena terdapat ilmu pasti didalamnya; yang sama sekali
tidak dapat diperdebatkan sebagai ciri dari metode presentasi tersebut.
Di bawah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai presentasi sebagai titik
fokus penggunaan metode di PBI STAIN Jurai Siwo Metro.
1.
Merancang
Bahan Presentasi
Merancang bahan presentasi merupakan langkah penting yang harus
dilakukan sebelum melakukan proses presentasi.
Ada empat langkah yang harus dilakukan dalam merancang bahan presentasi, yaitu:
a.
Merumuskan
tujuan khusus (specifying objectives).
b.
Mendesain
visual (designing visual).
c.
Memilih
bentuk tulisan (selecting lettering).
d.
Melakukan
evaluasi dan revisi (evaluation and
revision).
2.
Pelaksanaan Presentasi
Terdapat langkah-langkah sebelum melaksanakan presentasi, yakni
persiapan, pelaksanaan dan penutup.[26]
a.
Persiapan
Langkah persiapan adalah langkah sebelum pelaksanaan presentasi.
Keberhasilan dalam melaksanakan presentasi akan ditentukan oleh langkah
persiapan. Oleh karena itu, langkah
persiapan ini perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh.
b.
Penyajian/Pelaksanaan
Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai
dengan persiapan yang telah dilakukan. Yang harus dipikirkan oleh setiap guru
dalam penyajian ini adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan mudah
ditanggap dan dipahami oleh siswa. Oleh sebab itu, ada
beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini. Diantaranya
adalah penggunaan bahasa, intonasi suara, menjaga kontak mata dengan siswa,
menggunakan humor atau candaan agar kelas tetap hidup dan segar melalui
penggunaan kalimat atau bahasa yang lucu.[27]
3.
Standar dan Kriteria Penilaian Presentasi Makalah
Metode presentasi yang banyak dipergunakan di tingkat menengah ke atas
ialah dengan menggunakan presentasi makalah. Di sini, mahasiswa diharapkan
membuat ringkasan dari setiap sub-sub judul yang sekiranya penting dan perlu
untuk dibahas lebih lanjut.
a.
Apa
presentasi makalah itu?
Presentasi makalah (term-paper) adalah menyajikan satu karangan ilmiah
dengan sistematis kepada dosen atau mahasiswa lainnya tentang suatu pokok
bahasan tertentu sebagai bagian dari tugas mata kuliah yang dimaksudkan, untuk mendukung pencapaian hasil belajar atau
kompetensi.
b.
Apa
arti pentingnya presentasi makalah?
Sebuah presentasi makalah (term-paper) bertujuan untuk menunjukkan kemampuan
sebuah performa hasil belajar atau
kompetensi yang kompleks. Sebab, tugas ini menuntut kemampuan menyajikan
pikiran pada level analisis, atau sintesis atau evaluasi.[28]
4.
Teknik Presentasi Dengan Menggunakan Audio-visual
Seperti wawancara yang telah dilakukan sebelumnya, mahasiswa banyak yang
mengeluhkan tentang penggunaan metode presentasi dalam mata pelajaran
listening. Dengan audio-visual, seorang pembicara
dapat memberikan keterangan yang lebih luas,
rinci, serta mudah dicerna oleh para pendengarnya;
sehingga cocok bagi mata pelajaran listening. Presentasi juga menjadi lebih
menarik dan hidup. Pendengar juga dapat ikut menulis apabila ada yang dapat
dipakai sebagai referensi. Presentasi audio-visual
terdiri atas beberapa unsur pokok, unsur-unsur pokok tersebut harus
diperhatikan, baik sebelum maupun saat presentasi berlangsung. Unsur-unsur pokok tersebut adalah:
a.
Materi
presentasi.
b.
Tempat
presentasi.
c.
Alat-alat
audio, video atau audio-visual.
d.
Letak
audio-visual di dalam ruangan.
e.
Alat
peraga (slides, kaset video dan sebagainya).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
dengan penelitian yang kami lakukan dan juga didukung dengan data yang empirik
dan juga keterangan dari para ahli kami dapat menyimpulkan bahwa, pada dasarnya
melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan metode presentasi itu baik.
Karena dapat menumbuhkan rasa kemandirian dan juga membuka pola pikir seorang
mahasiswa.
Namun,
seringkali presentasi dapat dikatakan kurang berhasil disebabkan oleh beberapa
faktor yang seringkali diabaikan oleh seorang presenter. Seperti contohnya
penguasaan materi presentasi oleh seorang presenter dan juga kelengkapan
pendukung dalam presentasi.
Sebuah
presentasi dapat dikatakan berhasil ketika penetapan tujuan pembelajaran padu
dan diterima sehingga tercapailah keberhasilan usaha belajar. Proses
pembelajaran dapat dikatakan padu jika materi yang disampaiakn oleh seorang
presenter dapat diterima oleh audience.
B.
Saran
sebelum
melakukan proses presentasi seorang presenter harus memperhitungkan segala hal
yang dapat menghambat jalanya presentasi. Seperti contohnya penguasan materi
oleh presenter, dan juga penguasaan terhadap audience.
[1]Husnayetti,
“Tingkat Kepuasan Mahasiswa Dan Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi X”,
Jurnal Liquidity, (Jakarta Selatan:
STIE Ahmad Dahlan Jakarta), Volume 1, hal. 115.
[2]Muhammad
Noer, Presentasi Memukau Bagaimana
Menciptakan Presentasi Luar Biasa, (Singapura: Muhammad Noer ed., 2012),
hal. 7.
[3]Husnayetti,
“Tingkat Kepuasan Mahasiswa Terhadap Proses Pembelajaran di Perguruan Tinggi X”, Jurnal
Liquidity, (Jakarta Selatan: STIE Ahmad Dahlan Jakarta), Volume 1, hal. 115-124.
[4]Prof. Dr. H. Karwono,
M.Pd., Belajar dan Pembelajaran serta
Pemanfaatan Sumber Belajar, (Ciputat: Penerbit Cerdas Jaya, 2010), hal.2.
[9]Center
for Teaching Staff Development IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Desain Pembelajaran di PerguranTinggi, hal. 4.
[19]Winasanjaya,
Perencanaan dan Desain Sistem
Pembelajaran, (Jakarta: Prenada Media, 2013), hal. 190.
[21]Hudoro
Sameto, MBA, Cara Berbicara dan
Presentasi dengan Audio-visual,
(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2000), hal. 62.
[23]John W. Creswell, “Research
Design Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches”, (Lincoln:
Sage publication, 2003), hal. 191.
[27]Winasanjaya,
Perencanaan dan Desain Sistem
Pembelajaran, (Jakarta: Prenada Media, 2013), hal. 190.
[29]Hudoro
Sameto, MBA, Cara Berbicara dan
Presentasi dengan Audio-visual,
(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2000), hal. 62.
Komentar
Posting Komentar